
Sebuah foto, misalnya, memperlihatkan Ajoeba Wartabone dalam posisi berdiri bersama istrinya, Maroehoela Kaluku, dan putri kecilnya, Suus Wartabone, yang dipangku pamannya Mohammad Wartabone di Batavia, tahun 1923-1924.
Lokasi foto di depan rumahnya ini sekarang dikenal sebagai Jalan K.H. Wahid Hasyim, Jakarta. Foto Ajoeba Wartabone bersama dengan teman-teman sependidikannya di Bestuursschool, sekolah pemerintahan, di Batavia, tahun 1924. Dalam foto yang merupakan koleksi keluarga itu, terlihat Maroehoela Kaluku (istri) dan Suus Wartabone (anak).
Pada foto-foto lain, tampak para Jogugu di wilayah Gorontalo, tahun 1930-an, dengan pakaian adat mereka. Di foto koleksi Museum Sejarah Gorontalo itu, tampak Ismail Usman (Suwawa), Rais Monoarfa (Gorontalo), Ajoeba Wartabone (Limboto), dan K. Datau (Kwandang). Foto berikutnya, tampak Ajoeba Wartabone dengan berpakaian adat lengkap sebagai Jogugu Limboto bersama jajaran pejabat pemerintahan (Taudaa) di wilayah Limboto.
Foto-foto lain memperlihatkan aktivitas Ajoeba Wartabone selama masa NIT. Terdapat foto yang memperlihatkan suasana Konferensi Denpasar, dan pembahasan materi konferensi oleh setiap delegasi. Tampak delegasi duduk saling berhadapan. Meja mereka disatukan dan diberi taplak. Dalam foto itu, ada dua nama delegasi yang terlihat jelas, yakni Maloekoe Selatan, dan Timor. Para delegasi Konferensi Denpasar mengadakan sesi foro bersama di depan Hotel Bali, Desember 1946.
Ajoeba Wartabone merupakan salah seorang delegasi. Di Parlemen NIT, ia tergabung dalam Fraksi Progresif. Sebagai anggota parlemen, ia konsisten dengan semangat nasionalisme. Sikapnya sebagai republikein tulen tergambarkan dalam ungkapan yang tegas: “Sekali ke Djokja Tetap ke Djokja”. Kata-kata lantang itu disampaikan pada hari pertama pemandangan umum di Parlemen NIT, pada tanggal 29 April 1947 di Makassar, yang merupakan ibu kota Negara Indonesia Timur.
Delegasi Goodwill Missie
Perjalanan politik Ajoeba Wartabone terlihat saat ia menjadi bagian dari delegasi Goodwill Missie Parlemen NIT di Djokjakarta dan Djakarta. Tampak sebuah foto di mana Ajoeba Wartabone memegang topinya berdiri paling kanan sesaat setelah tiba di bandar udara Kemajoran, DJakarta, Senin, 16 Februari 1948. Foto lain tentang Ajoeba Wartabone yang keluar dan turun dari pesawat membawa tas khusus yang bertuliskan “Goodwill Missie” dan nama lengkapnya juga ada pada tas itu.
Jenis pesawat yang digunakan dalam misi persaudaraan itu, kemungkinan adalah Douglas C-47 Dakota. Pesawat jenis ini jadi andalan transportasi udara di Indonesia Timur, pasca Perang Dunia II, karena bisa mendarat di lapangan sederhana. Di badan pesawat ada tulisan DK-DRW, ini merupakan kode registrasi/pendaftaran pesawat. Kode DK menunjukkan bahwa pesawat itu terdaftar di Hindia Belanda/NIT.
Di bagian ekor pesawat kelihatan ada garis-garis yang menjadi ciri livery pesawat KLM/Dakota, pada tahun 1940-an. Setelah Konferensi Meja Bundar (KMB), kode DK berganti menjadi PK untuk Indonesia. Sedangkan DRW adalah semacam kode unik dan spesifik untuk pesawat itu sendiri, mirip plat nomor kendaraan bermotor.
Suasana penjemputan delegasi Goodwill Missie Parlemen NIT di Pangkalan Udara Maguwo, Djokjakarta, 18 Februari 1948, ikut pula dipajang dalam pameran foto hari itu. Tampak bagaimana Ajoeba Wartabone memegang topi, dengan pakaian rapi lengan panjang, dan berdasi. Ia membawa tas berkelas untuk dokumen penting dengan name tag yang dicantol pada gagang tasnya.
Foto Ajoeba Wartabone bersalaman dengan Presiden RI, Ir. Soekarno, boleh dikata sebagai focal point di antara semua fotonya. Ada rasa hormat dan kekaguman kepada sang proklamator kemerdekaan RI, saat ia dengan hangat menerima jabatan tangan Bung Karno. Saat bersalaman, Arnold Wowonutu, sebagai pimpinan delegasi memperhatikan momen bersejarah tersebut.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



