Pendapat

Ajobe Wartabone dalam Dokumentasi Foto Sejarah

PENDAPAT

Sebagai delegasi resmi Goodwill Missie Parlemen NIT, Ajoeba Wartabone dan rombongan, disambut dalam upacara penerimaan oleh Presiden RI, Ir Soekarno, dan Wapres Moehammad Hatta di Istana Kepresidenan, Djokjakarta, 18 Februari 1948.

Dalam penerimaan dan resepsi Goodwill Missie Parlemen NIT di Istana Kepresidenan di Djokjakarta, 18 Februari 1948, posisi duduk Ajoeba Wartabone di sudut depan sebelah kiri dekat pintu sejajar dengan Bung Karno, Bung Hatta, dan Arnold Wowonutu.

Saya berhenti di depan foto yang memperlihatkan Ajoeba Wartabone dan delegasi Goodwill Missie Parlemen NIT dalam acara penyambutan di Kepatihan Djokjakarta. Ada pula fotonya bersama delegasi Goodwill Missie, Presiden Soekarno dan Wapres Moehammad Hatta di Istana Kepresidenan di Djokjakarta. Pada foto berbeda, tampak rombongan Goodwill Missie bersama Presiden Soekarno, Wapres Moehammad Hatta, Ki Hadjar Dewantara, dan petinggi Republik Indonesia di Gedung Negara—sebutan lain Istana Kepresidenan di Djokjakarta.

Ajoeba Wartabone berdiri mengenakan jas dan berdasi bersama Wapres Moehammad Hatta, Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Arnold Wononutu. Mereka berdiri menyaksikan gelar pasukan yang berbaris sambil memanggul senjata.

Tergambarkan dalam salah satu foto, suasana acara Goodwill Missie Parlemen NIT, pada Februari 1948, di Djokjakarta, di mana Ajoeba Wartabone duduk di deretan depan, menyimak Arnold Wowonutu yang sementara berdiri berpidato di tengah-tengah hadirin. Di belakang, tampak foto Bung Karno dalam ukuran besar. Suasananya terasa resmi tetapi santai, dengan meja-meja kecil diberi taplak kotak-kota yang popular di masa itu.

Mic yang digunakan Arnold Wowonutu merupakan mic dinamis jenis “ball” atau “globe” yang umum dipakai untuk pidato kenegaraan, termasuk untuk siaran radio. Ciri mic ini, bentuk kepalanya bulat besar, seperti bola, sehingga sering disebut “mik tompel” atau “mik bola”. Modelnya berdiri di tiang Panjang, bukan jenis mic genggam.

Foto-foto selama di Djokjakarta seolah bercerita. Tampak Ajoeba Wartabone bersama Arnold Mononutu dan delegasi Goodwill Missie Parlemen NIT, ketika berada di Kepatihan Djokjakarta. Dalam foto terlihat pembesar keraton mengenakan blankon dan beskap menerima tamu-tamu kehormatannya.

Foto lain, menunjukkan Ajoeba Wartabone berdiri di depan bersama Arnold Wowonutu menyaksikan gelar pasukan penyambutan di Djokjakarta.

Sumber foto koleksi Perpustakaan Nasional RI itu memperlihatkan ia mengenakan setelan jas putih, dengan dasi bergaris, dan rambut yang disisir rapi. Rambut mengkilap itu tampaknya menggunakan pomade. Ajoeba Wartabone berdiri dengan tangan yang disilangkan di depan, menikmati acara gelar pasukan.

Dalam buku Ajoeba Wartabone (1894-1957): “Sekali ke Djokja Tetap ke Djokja” dijelaskan, di masa Revolusi Kemerdekaan terdapat orang-orang Sulawesi yang berjuang dan berhimpun dalam organisasi Kebaktian Rakyat Indonesia-Sulawesi (KRIS). Ketika defile pasukan Republik di hadapan Wapres Bung Hatta, Sri Sultan Hamengkubuwono IX, dan delegasi Goodwill Missie, 20 Februari 1948, pasukan KRIS tampil dengan sangat memukau. Fotografer IPPHOS berdarah Minahasa, Frans Mundur, memotret momen historis tokoh-tokoh NIT dalam Misi Persaudaraan tersebut.

Pada foto lain yang bersumber dari Nationaal Archief – Den Haag, The Netherlands, terlihat Ajoeba Wartabone dan delegasi Goodwill Missie NIT meninggalkan Istana negara Djokjakarta setelah penyambutan resmi oleh Presiden RI, Ir Soekarno, dan Wapres Moehammad Hatta. Pada peristiwa tanggal 18 Februari 1948, terlihat seorang pria berseragam militer warna khaki yang merupakan pengawal istana.

Posisi pria berseragam militer berdiri di samping mobil mengindikasikan dia sedang bertugas sebagai pengawal resmi rombongan kala akan meninggalkan Gedung Negara. Bodi mobil yang terlihat, merupakan Cadillac Fleetwood, yang dapat dikenali dari gril depan dengan tiga bilah horinzontal tebal dan bentuk bumper serta lampu depan yang khas. Mobil ini merupakan kendaraan resmi kenegaraan RI di Yogyakarta, dan sering dipakai oleh Bung Karno.

“Ini Ajoeba Wartabone, Opa saya, berdiri bersama para tokoh Republik,” ujar Roeland Niode, yang merupakan cucu pertama dengan nada bangga, tetapi tak bermaksud jemawa.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3 4Next page

Berita Serupa

Back to top button