After Taste: Warteg Kekinian di Ambon yang Mengobati Rindu Anak Rantau
Konsep yang diusung memang sederhana namun terasa dekat. Warung ini mengadaptasi gaya warteg, yang akrab ditemui di berbagai sudut kota di Jawa. Di sana, orang biasanya mengambil lauk dari etalase kaca: sayur, telur, tempe, ayam, atau sambal yang menggoda selera.
Di Warung After Taste, semangat itu dihidupkan kembali, namun dengan sentuhan yang lebih segar. Menu yang ditawarkan tetap menu rumahan, sederhana, hangat, dan akrab di lidah.
Bagi mereka yang pernah tinggal di Jawa, sepiring nasi dengan lauk sederhana kadang lebih dari sekadar makanan. Ia adalah pengingat: tentang masa kuliah, kehidupan kos, atau malam-malam panjang bersama teman.
Selain makanan utama, Warung After Taste juga menyediakan jamu tradisional, kopi, serta beragam snack yang bisa dinikmati sambil bersantai. Perpaduan ini membuat warung tersebut terasa seperti ruang tamu terbuka tempat orang bisa singgah tanpa terburu-buru.

Menariknya, warung ini juga menghadirkan satu menu yang tidak biasa ditemui di Ambon, Mie Gomak, makanan khas Batak dari Sumatera Utara. Menu ini menjadi salah satu andalan di Warung After Taste.
Senja bercerita, kehadiran mie gomak tidak lepas dari keberagaman orang-orang yang tergabung dalam komunitas After Taste. Beberapa di antaranya berasal dari suku Batak, yang kemudian ingin memperkenalkan kuliner khas daerahnya kepada masyarakat Ambon.
“Di komunitas After Taste ada beberapa teman Batak. Mereka ingin memperkenalkan makanan khas mereka juga di sini, jadi kami sepakat menghadirkan mie gomak sebagai salah satu menu,” kata Senja.
Dalam satu piring mie gomak, tersimpan cerita tentang pertemuan budaya. Di satu meja, orang bisa menikmati rasa warteg khas Jawa, sementara di meja lain tersaji hidangan Batak yang kaya rempah.
Penulis :
Editor :



