Pendapat

Ketika Hutan Terbakar, Bahasa dan Budaya Ikut Terancam

PENDAPAT

Oleh: Lise de Fretes, penulis, Yayasan Wai Ihu


Saya berkomitmen pada pelestarian bahasa dan budaya asli, serta alam tempat komunitas-komunitas itu hidup. Dengan itu saya berharap dapat ikut memperbaiki kondisi kehidupan masyarakatnya.

Namun kebakaran hutan dan rusaknya lingkungan hidup masyarakat adat menunjukkan betapa eratnya semua ini saling terkait. Bagaimana saya bisa hanya berfokus pada bahasa dan budaya, jika para penuturnya terancam kehilangan tanah mereka, dan dengan itu budaya mereka?

Saya sedang menekuni tata bahasa Melayu Ambon, lalu mendongak dan melihat hutan-hutan terbakar di Ambon dan Seram.

Seseorang bertanya kepada saya: “Apakah Anda netral secara politik?” Saya menjawab: “Tidak, jika menyangkut kesejahteraan manusia dan alam. Di situ saya jelas berpihak: pada perlindungan, dan pada kesempatan untuk berbahasa dan menghayati budaya sendiri.”

Ketika tanah terbakar, tidak ada yang menanyakan haluan politik. Kita memadamkan api bersama-sama, pemerintah, masyarakat, dan relawan, serta menolong manusia dan hewan. Setelah itu kita dapat menelaah penyebabnya dengan pikiran terbuka dan bersama-sama mencegahnya terulang.

Demokrasi yang kuat adalah demokrasi tempat setiap orang dapat menyampaikan kekhawatirannya dan para pemimpin mau mendengarkan. Menyampaikan kekhawatiran bukanlah serangan, melainkan wujud kepedulian terhadap tanah air yang sama.

Karena itu saya bertanya dengan tulus: jaminan dan kerja sama apa yang kita butuhkan agar masyarakat didengar dalam keputusan tentang tanah mereka? Dan bagaimana kita melindungi kesehatan mereka yang kini hidup di bawah kepungan asap?

Tata bahasa kini adalah hal terakhir yang bisa saya pikirkan. Namun saya percaya, bersama-sama, pemerintah, ilmuwan, media, dan masyarakat, kita dapat menemukan jalan. Langkah apa yang paling dahulu diperlukan?(*)

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Berita Serupa

Back to top button