Bencana Tak Bisa Dihindari, Korban Jiwa Harus Bisa Dicegah
potretmaluku.id – Ancaman gempa bumi dan tsunami di Kota Ambon tidak bisa dihindari, tetapi risiko jatuhnya korban jiwa harus ditekan melalui kesiapsiagaan masyarakat. Hal itu disampaikan Wali Kota Ambon, Bodewin M. Wattimena, saat membuka Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami Kota Ambon Tahun 2026 di Balai Kota Ambon, Sabtu (24/10/2026).
Dia menegaskan edukasi kebencanaan menjadi kunci agar warga mampu menyelamatkan diri ketika bencana terjadi. “Bencana tidak mungkin kita hindari. Namun, yang terpenting adalah bagaimana kesiapsiagaan kita sehingga ketika bencana itu datang, kita mampu menghadapinya dan mengurangi risiko yang ditimbulkan,” tegas Bodewin
Menurutnya, sejarah gempa bumi dan tsunami di Ambon harus menjadi pelajaran serius. Pada 1950, gempa bumi yang disertai tsunami melanda kawasan Galala-Hative Kecil dan menimbulkan banyak korban jiwa.
Sementara pada 2019, aktivitas kegempaan tinggi menyebabkan kerusakan bangunan di sejumlah wilayah Kota Ambon. Pengalaman tersebut menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan, terutama karena banyak permukiman berada di kawasan pesisir yang berpotensi terdampak tsunami.
Ia mengapresiasi respons masyarakat saat gempa 2019, ketika warga bergerak menuju wilayah yang lebih tinggi. Namun, menurutnya, kesadaran itu perlu diperkuat dengan pemahaman mengenai ancaman tsunami, jalur evakuasi, dan tindakan penyelamatan yang tepat.
“Yang kita perjuangkan adalah tidak adanya korban jiwa. Itu masih bisa kita upayakan sepanjang masyarakat mendapatkan edukasi dan memahami dengan baik bagaimana menyelamatkan diri ketika terjadi gempa bumi dan tsunami,” katanya.
Bodewin mengatakan, Pemkot Ambon telah memiliki Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2017 tentang Penanggulangan Bencana sebagai landasan mitigasi. Upaya yang dilakukan meliputi penyediaan rambu dan jalur evakuasi, edukasi masyarakat, serta kerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta UNESCO.
Kolaborasi tersebut antara lain diwujudkan melalui program Tsunami Ready di Desa Galala dan Hative Kecil, edukasi kebencanaan bagi masyarakat pesisir, serta pembangunan tugu tsunami di Desa Hative Kecil.
Melalui Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami 2026, Pemkot Ambon menyasar masyarakat di Kelurahan Tihu, Negeri Rumah Tiga, dan Desa Poka untuk meningkatkan pengetahuan serta keterampilan menghadapi situasi darurat.
Dia mengingatkan, penyediaan fasilitas mitigasi tidak akan maksimal tanpa keterlibatan masyarakat. Warga harus mengetahui lokasi rambu evakuasi, memahami fungsinya, dan mampu mengambil keputusan dengan cepat ketika bencana terjadi.
“Kami berharap edukasi dan sinergi bersama BMKG serta berbagai pihak dapat memperkuat budaya sadar bencana, sehingga masyarakat tidak hanya mengenali ancaman, tetapi juga siap melindungi diri dan orang-orang di sekitarnya,” tandasnya. (SAH)
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



