Amboina

Di Semesta Raya Sastra 1.0, Sasti Gotama Berbagi Proses Kreatif; Penulis Ambon Diajak Terus Berkarya


potretmaluku.id – Menulis tidak harus dimulai dari pekerjaan sebagai sastrawan. Pertanyaan tentang kehidupan, pengalaman sehari-hari, bahkan konflik sederhana yang tersimpan sejak masa kecil dapat menjadi bahan untuk melahirkan karya.

Pesan itu mengemuka dalam kegiatan Semesta Raya Sastra 1.0 yang digelar Timur Menulis dengan menghadirkan penulis Sasti Gotama secara virtual. Kegiatan yang digelar di Aula Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Pattimura Ambon, Selasa, 29 September 2026 tersebut mempertemukan pelajar, mahasiswa, masyarakat umum, dan kalangan akademisi untuk membicarakan proses kreatif serta pengalaman kepenulisan.

Akademisi dan pemerhati sastra Maluku, Mariana Lewier, mengatakan kegiatan semacam itu penting untuk mengembangkan literasi sekaligus memotivasi masyarakat Ambon yang memiliki minat menulis.

Menurut Mariana, pengalaman Sasti menunjukkan bahwa seseorang dapat mulai menulis dan menekuni sastra kapan saja. Sasti, kata dia, sebelumnya berprofesi sebagai dokter dan aparatur sipil negara sebelum memilih menekuni dunia kepenulisan.

“Tidak ada batas usia untuk seseorang mulai menulis,” kata Mariana.

Ia menilai pengalaman dan latar belakang seseorang justru dapat menjadi sumber kekuatan dalam berkarya. Latar belakang kedokteran Sasti, misalnya, memberikan sudut pandang yang tidak banyak dikenal pembaca dan membuat cerita yang ditulisnya terasa lebih spesifik.

Mariana juga menyoroti pentingnya orisinalitas karya di tengah perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). 

Menurut dia, kemudahan teknologi dalam menghasilkan teks perlu diimbangi dengan kesadaran penulis untuk tetap menghadirkan gagasan dan pengalaman yang berasal dari dirinya sendiri.

“Tidak ada yang sempurna, tapi harus terus berupaya untuk menghasilkan sesuatu yang benar-benar karyanya sendiri,” ujarnya.

Mariana mengatakan karya sastra tidak selalu membutuhkan konflik besar. Persoalan sederhana, pengalaman masa kecil, atau trauma yang tersimpan lama dapat diolah menjadi cerita yang kuat.

Ia melihat antusiasme peserta dalam kegiatan tersebut menunjukkan adanya minat untuk menulis di Ambon.

“Dunia kepenulisan itu sesuatu yang berharga. Tidak saja karena kepuasan batin, tapi dari menulis orang juga bisa menghasilkan karya yang kemudian ada harganya,” kata Mariana.

Menurut dia, profesi penulis kini tidak lagi semata-mata dipandang sebagai hobi. Karya yang dihasilkan dapat membuka peluang penghasilan, termasuk melalui publikasi, undangan kegiatan, dan program residensi penulis.

Sementara itu, penyair Maluku, Achmad Munir Wael, menyampaikan pesan serupa. Ia mengajak penulis di Ambon untuk lebih berani menekuni kegiatan menulis tanpa menjadikan persoalan penghasilan sebagai pertimbangan utama pada tahap awal.

Bagi Achmad, yang penting adalah menemukan titik temu antara pekerjaan dan sesuatu yang disukai.

“Yang penting katong punya pekerjaan dengan sesuatu yang katong suka, sesuatu hobi katong yang bisa jadi pekerjaan,” ujarnya.

Ia mencontohkan perjalanan Sasti yang meninggalkan pekerjaan yang relatif terjamin untuk memilih menjadi penulis. Keputusan tersebut, menurut Achmad, menunjukkan bahwa proses kreatif dapat berangkat dari keberanian seseorang mempertanyakan kehidupan.

Pertanyaan, kata dia, menjadi salah satu pintu masuk dalam proses menulis. Dari pertanyaan tentang kehidupan itulah penulis mencari jawaban melalui karya.

“Katong harap lebih berani lagi teman-teman untuk menulis. Soal rezeki dan pekerjaan itu nanti, yang penting katong menulis,” kata Achmad.

Pada kesempatan yang sama, penulis buku Namia Belum Pulang, Lommie Ephing, menilai kegiatan literasi seperti Semesta Raya Sastra perlu dilakukan secara rutin. 

Menurut dia, perjumpaan langsung dengan penulis dapat membantu pelajar dan mahasiswa mengembangkan imajinasi serta mengaktifkan kembali daya cipta.

“Sastra bagian dari kehidupan manusia,” ujar Lommie.

Ia menyebut pengalaman Sasti sebagai penulis memberikan pelajaran berharga bagi penulis pemula. Karya dan perjalanan kepenulisan Sasti, kata Lommie, dapat menjadi contoh bagi mereka yang masih memiliki keraguan untuk memulai.

Lommie juga merasakan kegiatan tersebut memberi ruang bagi peserta untuk membicarakan ketakutan dan rasa minder dalam proses kreatif.

“Rasanya seperti katong punya ketakutan, rasa takut, keminderan, rasa minder, jadi kayak punya katarsis,” katanya.

Menurut Lommie, ruang perjumpaan antara penulis dan pembaca seperti itu penting untuk membangun ekosistem sastra di Ambon. Selain menambah pengetahuan, kegiatan tersebut dapat mempertemukan orang-orang yang memiliki minat serupa dan mendorong mereka untuk terus berkarya.(TIA)


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Berita Serupa

Back to top button