Pendapat

Ketika Sejarah, Persahabatan, dan Sketsa Menjadi Satu Perjalanan di Banda Neira

Catatan dari Sketch Residensi - Ruang Berkisah di Rumah Pengasingan Bung Hatta (2)

Oleh: Namira Zifani Pelu (Sketcher tinggal di Ambon)


Hari ketiga di Banda dimulai dengan pembagian kelompok. Sebagian peserta menuju kawasan Istana Mini. Sebagian lainnya menuju pasar.

Sejujurnya, saya berharap masuk kelompok pertama. Menggambar bangunan terasa lebih mudah bagi saya, dibandingkan menggambar manusia yang terus bergerak. Namun rupanya hari itu Banda punya rencana lain.

Saya ditempatkan di pasar. Awalnya saya menganggap itu sebagai nasib yang kurang beruntung. Belakangan saya sadar, justru di sanalah saya memperoleh pelajaran paling berharga.

Di tengah hiruk-pikuk pasar, untuk pertama kalinya saya memberanikan diri membuat sketsa langsung menggunakan pena, meninggalkan kebiasaan lama yang selalu mengawali gambar dengan pensil.

Tidak ada kesempatan menghapus. Tidak ada kesempatan mundur. Setiap garis harus diterima apa adanya. Barangkali hidup juga demikian.

ruang berkisah 4
Penulis saat menjelaskan subyek sketsanya kepada peserta yang lain.(Foto: Dok. Ruang Berkisah)

Di pasar itu saya bertemu para nelayan yang sedang menata ikan salir. Beberapa dari mereka menghampiri dan memperhatikan gambar yang sedang saya buat. Saya sempat terkejut melihat rasa penasaran mereka.

Percakapan-percakapan kecil yang muncul kemudian membuat saya sadar, bahwa seni sebenarnya tidak selalu membutuhkan ruang galeri yang megah. Kadang-kadang ia cukup hadir di sudut pasar, di antara aroma laut dan obrolan sederhana.

Saat makan siang kami kembali ke Rumah Pengasingan Bung Hatta, lalu bertukar lokasi dengan kelompok lain. Kini giliran saya menuju kawasan Istana Mini.

Anehnya, tempat yang sebelumnya saya anggap lebih mudah justru membuat saya kesulitan menentukan objek gambar. Saat itulah saya tersenyum sendiri.

Tuhan rupanya sudah memilihkan tempat terbaik untuk saya sejak awal. Hari itu menjadi hari yang manis antara saya, pasar Banda, tiang bendera Istana Mini, dan rasa syukur yang datang tanpa diduga.

***


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

1 2 3Next page

Berita Serupa

Back to top button