BPS Mulai Pendataan SE 2026, Petakan Ekonomi Maluku Tenggara hingga Tingkat Ohoi
potretmauku.id – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Maluku Tenggara mulai mengintensifkan pelaksanaan Sensus Ekonomi atau SE 2026 sebagai fondasi penyusunan kebijakan pembangunan berbasis data yang lebih akurat dan komprehensif.
Pendataan yang berlangsung hingga Agustus mendatang itu diharapkan mampu memotret secara utuh aktivitas ekonomi masyarakat hingga tingkat desa.
Kepala BPS Kabupaten Maluku Tenggara, Freddy Abrahams, mengatakan SE 2026 menjadi salah satu sensus paling lengkap yang pernah dilakukan karena tidak hanya memetakan pelaku usaha, tetapi juga menghimpun informasi sosial ekonomi masyarakat secara lebih luas.
“SE 2026 membawa terobosan besar yang akan menjadi kompas bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan pembangunan. Cakupannya jauh lebih lengkap dibandingkan Sensus Ekonomi 2016 karena kali ini juga mencakup sektor pertanian yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat,” kata Freddy saat pencanangan Sensus Ekonomi 2026 di Taman Landmark Kota Langgur, Kabupaten Maluku Tenggara, Senin, 15 Juni 2026.
Menurut Freddy, sensus tersebut akan menghasilkan data mengenai jumlah dan persebaran usaha, karakteristik pelaku usaha, perkembangan ekonomi digital dan ekonomi hijau, hingga potensi ekonomi daerah yang dapat dikembangkan pada masa mendatang.
Pendataan juga mencakup seluruh skala usaha, mulai dari usaha mikro, kecil, dan menengah hingga usaha besar. Data yang dikumpulkan bahkan menjangkau tingkat ohoi atau desa sehingga diharapkan mampu memberikan gambaran ekonomi yang lebih rinci.
Ia menjelaskan, berbeda dengan sensus ekonomi sebelumnya yang berfokus pada pendataan unit usaha, SE 2026 turut memuat data sosial ekonomi keluarga. Dengan demikian, pemerintah dapat memperoleh informasi yang lebih menyeluruh mengenai kondisi masyarakat.
“Karena cakupannya sangat luas, kami menyebut SE 2026 sebagai sensus semesta, sebab di dalamnya mencakup unsur Sensus Penduduk, Sensus Pertanian, dan Sensus Ekonomi,” ujarnya.
Freddy menambahkan, hasil sensus nantinya akan menjadi basis utama dalam menghitung pertumbuhan ekonomi Kabupaten Maluku Tenggara sekaligus mendukung penyusunan berbagai program pembangunan yang lebih tepat sasaran.
Dalam pelaksanaannya, BPS juga menerapkan sejumlah inovasi teknologi. Salah satunya adalah penggunaan sistem geotagging yang memungkinkan petugas merekam koordinat setiap bangunan tempat tinggal maupun lokasi usaha yang didata.
Teknologi tersebut akan digunakan untuk menyusun peta digital yang menggambarkan persebaran penduduk dan aktivitas ekonomi secara lebih akurat.
“Melalui peta digital ini, kita dapat melihat secara visual konsentrasi pertumbuhan ekonomi, potensi pasar, hingga persebaran usaha mikro, kecil, dan menengah di seluruh wilayah,” kata Freddy.
Selain geotagging, perangkat yang digunakan petugas sensus telah dilengkapi teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Teknologi ini membantu proses identifikasi Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 2025 sehingga pengolahan data dapat dilakukan lebih cepat dan akurat.
Pelaksanaan SE 2026 berlangsung sejak Mei hingga Agustus 2026. Adapun pendataan lapangan secara langsung dari rumah ke rumah dimulai pada 15 Juni dan dijadwalkan berakhir pada 31 Agustus 2026.
Freddy menegaskan kualitas data menjadi faktor penting dalam mendukung perencanaan pembangunan. Karena itu, seluruh petugas sensus diminta menjaga profesionalisme, objektivitas, serta kerahasiaan data responden.
“Ikrar ini merupakan pernyataan kesiapan para petugas untuk bekerja secara jujur, disiplin, objektif, serta menjaga kerahasiaan data responden yang dipercayakan masyarakat, sehingga menghasilkan data statistik yang berkualitas bagi pembangunan daerah,” ujarnya.
Melalui Sensus Ekonomi 2026, BPS berharap tersedianya data yang akurat, mutakhir, dan komprehensif untuk mendukung perumusan kebijakan pembangunan nasional maupun daerah, sekaligus meningkatkan daya saing ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.(TIA)
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



