Desa Cantik Didorong Jadi Instrumen Pengentasan Kemiskinan di Maluku Tenggara
potretmaluku.id – Badan Pusat Statistik Kabupaten Maluku Tenggara menilai program Desa Cinta Statistik (Desa Cantik) menjadi langkah strategis untuk menekan angka kemiskinan di tingkat desa dan kelurahan melalui penguatan tata kelola data.
Kepala BPS Kabupaten Maluku Tenggara, Freddy Abrahams, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari inisiatif Quick Wins Badan Pusat Statistik untuk membangun kemandirian desa dalam pengelolaan dan pemanfaatan data.
“Melalui Desa Cantik, kami ingin meningkatkan literasi statistik masyarakat desa, memperkuat standar pengelolaan data, serta memastikan data dimanfaatkan secara optimal agar program pembangunan lebih tepat sasaran,” kata Freddy di Desa Ohoidertawun, Kabupaten Maluku Tenggara, Kamis, 30 April 2026.
Menurut dia, penguatan data desa sejalan dengan sejumlah regulasi nasional, di antaranya Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1997 tentang Statistik yang mengamanatkan pembinaan data sektoral hingga tingkat desa.
Selain itu, Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2024 tentang Desa juga menekankan pentingnya pembangunan berbasis data presisi untuk mendukung efektivitas kebijakan pembangunan.
Freddy mengatakan kebijakan Peraturan Presiden Nomor 39 Tahun 2019 tentang Satu Data Indonesia turut mendorong integrasi data guna memperkuat sistem statistik nasional.
Melalui program Desa Cantik, aparatur desa didorong menjadi agen statistik yang mampu mengelola data secara mandiri. Mereka dibekali kemampuan mulai dari perencanaan kegiatan statistik, pengumpulan dan pengolahan data, hingga validasi dan publikasi data.
Sejak diluncurkan pada 2021, program Desa Cantik telah menjangkau 2.430 desa dan kelurahan di seluruh Indonesia hingga 2025. Pada 2026, setiap kabupaten dan kota ditargetkan membina tiga desa dalam program tersebut.
Di Maluku Tenggara, tiga desa yang ditetapkan sebagai lokasi pelaksanaan program yakni Desa Ohoidertawun, Desa Ngilngof, dan Desa Hollat.
Freddy mengatakan capaian Maluku Tenggara dalam program Desa Cantik juga cukup menonjol. Pada 2024, Desa Loon meraih peringkat pertama Desa Cantik terbaik tingkat kabupaten dan kota se-Maluku. Sementara Desa Wearlilir meraih peringkat kedua pada 2025.
Untuk mendukung digitalisasi data desa, BPS Maluku Tenggara saat ini mengembangkan dua aplikasi yang difokuskan pada pengumpulan data dan dashboard visualisasi data desa.
Aplikasi tersebut dirancang untuk mempermudah akses data secara cepat, akurat, dan real-time hingga tingkat kabupaten.
Meski demikian, keterbatasan kapasitas penyimpanan data masih menjadi kendala dalam pengembangan sistem tersebut. Karena itu, BPS berharap dukungan Dinas Komunikasi dan Informatika melalui pemanfaatan Pusat Data Nasional sebagai solusi penyimpanan data yang lebih aman.
“Jika sistem ini berjalan optimal, maka integrasi data dari desa hingga kabupaten dapat terwujud dan sangat membantu pemerintah dalam merumuskan kebijakan berbasis data,” ujar Freddy.
Ke depan, BPS Maluku Tenggara membuka peluang kolaborasi dengan seluruh perangkat daerah guna memperkuat data sektoral sebagai dasar intervensi pembangunan.
Sebagai bentuk dukungan terhadap implementasi Satu Data Indonesia, aplikasi yang dikembangkan tersebut diberikan secara gratis kepada pemerintah desa dan diharapkan dapat memperkuat tata kelola data di daerah.(TIA)
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



