MalukuMaluku Utara

Langkah Panjang Gubernur Maluku ke Bacan: Pesan Damai dari Perayaan 90 Tahun GPM

potretmaluku.id – Pagi itu, langit Ternate cerah. Dari bandara kecil yang ramai oleh aktivitas, rombongan Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa melanjutkan perjalanan panjang menuju Bacan, Halmahera Selatan. Tujuan mereka istimewa: menghadiri perayaan 90 tahun Gereja Protestan Maluku (GPM).

Sejak awal, perjalanan ini bukan sekadar agenda seremonial. GPM, yang berakar kuat di Maluku dan Maluku Utara, menyimpan sejarah panjang pelayanan iman dan peran sosial di tengah masyarakat. Angka 90 tahun bukan sekadar bilangan, tetapi penanda perjalanan generasi demi generasi yang terus menjaga harmoni di tanah kepulauan timur.

Begitu tiba di Bacan, suasana berubah hangat. Denting tifa dan tarian penyambutan menyambut langkah Gubernur. Senyum warga, para pelayan gereja, hingga pemuda-pemudi yang berjejer di sepanjang jalan, memantulkan kegembiraan kolektif.

Di balik keramahan itu, terasa ada harapan: bahwa kehadiran pemimpin daerah membawa simbol kedekatan, meski harus menempuh ribuan kilometer laut dan daratan.

Di tengah acara, Gubernur Hendrik Lewerissa menyampaikan pesan yang sarat makna. Ia menekankan pentingnya kebersamaan Maluku dan Maluku Utara, bukan hanya dalam iman, tapi juga dalam membangun masa depan.

“Kita harus memperkuat kolaborasi, karena Maluku dan Maluku Utara adalah dua saudara yang tak bisa dipisahkan oleh batas administrasi,” katanya.

Pesan itu mengalir sejalan dengan nilai-nilai GPM yang selalu menekankan persaudaraan lintas pulau. Dalam refleksi 90 tahun ini, jelas bahwa gereja bukan hanya soal spiritualitas, tapi juga wadah mengikat masyarakat dalam solidaritas, menghadapi tantangan sosial, ekonomi, hingga menjaga damai.

Bagi masyarakat Bacan, momen ini menjadi sejarah tersendiri. Jarang sekali seorang gubernur Maluku datang jauh-jauh ke tanah mereka. Kehadiran Hendrik seakan meneguhkan kembali jembatan emosional antara dua wilayah yang memiliki akar budaya, sejarah, dan iman yang sama.

Perayaan pun berlangsung khidmat. Doa dan nyanyian menggema, mengingatkan hadirin pada jejak para pendiri yang dulu memulai pelayanan dengan segala keterbatasan. Kini, setelah 90 tahun, GPM berdiri sebagai pohon besar dengan akar yang dalam, cabang yang rimbun, dan buah yang memberi kehidupan bagi banyak orang.

Di ujung acara, Gubernur kembali menekankan satu hal: membangun daerah kepulauan hanya mungkin dilakukan dengan rasa persaudaraan dan kebersamaan. Pesannya, sederhana namun mengena: “Mari kita rawat warisan iman ini, sekaligus menjadikannya energi untuk membangun Maluku dan Maluku Utara lebih maju.”

Langkah panjang menuju Bacan itu pun berakhir, tapi gema pesannya terasa meluas. Seperti ombak yang tak berhenti menyapa pantai, harapan akan kolaborasi dan persaudaraan itu akan terus mengalir, melampaui upacara seremonial, menembus ruang kehidupan sehari-hari masyarakat kepulauan.(*/TIA)

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Berita Serupa

Back to top button