Amboina

Momentum Kebangkitan Klub Legendaris Ambon, PSA U-17 Melaju ke Soeratin Nasional

potretmaluku.id – Minggu sore, 13 Juli 2025, langit di atas Lapangan Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut (Lantamal) IX Halong Ambon, tampak biasa saja. Tak ada kembang api, tak ada gemuruh tribun penuh suporter. Tapi di atas lapangan, satu drama kecil sedang menulis sejarah. Skor 2-2 tak berubah hingga peluit panjang dibunyikan. 

Adu penalti pun digelar. Detik demi detik berubah menjadi jantung yang berdegup keras. Skor akhir 7-5. PSA U-17 juara. Bukan hanya menang, mereka resmi melangkah ke panggung nasional, sebuah langkah yang sudah lama tertunda.

Bagi Persatuan Sepakbola Ambon, atau PSA, kemenangan ini lebih dari sekadar trofi Piala Soeratin U-17 regional Maluku. Ini semacam napas baru setelah koma panjang. Klub legendaris itu seolah hidup kembali melalui kaki-kaki remaja yang tak peduli sejarah, tapi justru menulisnya ulang.

“Persiapan hanya dua bulan. Seleksi pemain cuma empat hari di Stadion Mandala Remaja Karangpanjang. Kami latihan di lapangan (Kompi A Yonif 733 Raider Masariku) Waiheru meski hujan hampir setiap hari,” tutur Marcel Tuapetel, pelatih kepala PSA U-17.

Tak ada fasilitas mewah. Tak ada stadion milik sendiri. Tapi hasilnya, PSA U-17 tak terkalahkan. Mereka mengalahkan Tunas Inti FC 3-0, seri dengan Matawaru Tulehu 1-1, menang 3-0 atas Siwalima FC, dan melibas Nusantara FC Masohi 3-0 di semifinal.

Di final, mereka berhadapan kembali dengan Tulehu Putra FC. Laga berakhir imbang 2-2. Drama adu penalti menjadi penentu. Dan PSA menang. Kemenangan yang dirayakan sederhana di rumah sang manajer, Johan Lewerissa, di kawasan Karangpanjang.

Di halaman belakang kediaman yang didekorasi seadanya, berkumpul pelatih, pemain, dan sejumlah legenda PSA senior. Johan duduk di tengah-tengah, wajahnya serius namun matanya berkaca. “PSA ini bukan milik kami saja. Ini milik Kota Ambon. Milik pemerintah dan masyarakat kota ini,” ujarnya pelan, seperti mengingat sesuatu yang telah lama hilang.

Ia mengisahkan bahwa sejak 2022, PSSI sudah menghubunginya agar PSA kembali aktif. Saat dicek, ternyata nama PSA masih terdaftar resmi di PSSI dan Kementerian Hukum dan HAM. 

PSA
Para pelatih dan Manajer PSA saat konferensi pers, Senin, 14 Juli 2025.(Foto: potretmaluku.id/ZAI)

“Kami tak perlu membentuk yang baru. Legalitas tetap milik Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon. Tapi manajemen teknis sekarang kami pegang,” katanya.

Langkah revitalisasi organisasi pun mulai dijajaki, dibicarakan langsung dengan Wali Kota Ambon, Bodewin M. Wattimena. Tujuannya bukan hanya menyiapkan skuad U-17 untuk putaran nasional Soeratin, tetapi membangun kembali struktur pembinaan dari level U-13 dan U-15, menuju satu cita-cita: kelahiran kembali PSA senior yang bisa bersaing di Liga Nusantara.

Johan tahu, masalah terbesar PSA bukan talenta, tetapi fasilitas. Tak punya lapangan sendiri, apalagi stadion. Tapi semangat tak bisa dibendung oleh rumput yang becek atau tribun yang kosong. 

“Kami akan koordinasi dengan Pemkot maupun Pemprov. PSA perlu rumah,” ujarnya tegas.

Kini, PSA U-17 tak hanya akan mewakili Maluku dalam putaran nasional Piala Soeratin 2025, mereka juga dilirik untuk kembali tampil dalam Kejuaraan Garuda Nusantara yang diprakarsai Presiden Prabowo Subianto. 

Tahun 2022, mereka pernah diundang meski kalah bersaing dengan akademi tim besar seperti Persatuan Sepak Bola Indonesia Bandung (Persib), Persatuan Sepakbola Indonesia Jakarta (Persija), atau Persatuan Sepak bola Makassar (PSM).

“Yang penting, kami kembali eksis. Dan anak-anak ini sudah buktikan: meski hujan, meski minim fasilitas, mereka bisa berdiri sejajar,” ucap Marcel sambil menepuk bahu salah satu pemain.

Sementara itu, Ketua Asprov PSSI Maluku, Sofyan Chang Lestaluhu menyatakan bahwa jadwal resmi putaran nasional Soeratin 2025 masih menunggu surat dari PSSI pusat. “Tahun ini tetap digelar,” katanya singkat.

Dari hasil regional Maluku, SSB Matawaru Tulehu akan mewakili U-13, dan Maluku FC untuk U-15. Tapi semua mata kini tertuju pada PSA. Sebab di pundak anak-anak muda ini, ada janji lama yang coba ditepati. Bahwa PSA tak pernah benar-benar mati, hanya tertidur menanti dibangunkan.(ZAI)

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS

 


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Berita Serupa

Back to top button