KomunitasMaluku Tengah

14 Jam Perjalanan untuk Gelar Bimtek Bagi Petani Maluku

Menempuh perjalanan dari Kota Ambon ke Kobisonta (sebuah desa di Kecamatan Seram Utara Timur Seti, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku), lebih lama dari perjalanan Ambon ke Jakarta. Ambon – Jakarta ditempuh dengan pesawat kurang lebih 3 jam. Sedangkan Ambon – Kobisonta sekitar 14 jam dengan kombinasi moda transportasi darat dan laut.

Dari Kota Ambon jam 10 pagi, tiba di Kobisonta jam 12 malam. Melewati puncak Gunung SS dengan kerusakan jalan akibat hujan, membuat perjalanan jadi “bergelombang”. Mata harus terjaga walau dalam perjalanan malam.

Dalam perjalanan panjang itu, saya sengaja hadir secara fisik untuk bertemu masyarakat dalam menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek). Kegiatan ini digelar atas kerjasama komisi IV DPR RI dengan Kementerian Pertanian (Kementan) RI.

Kami bertolak dari Ambon hari Kamis tanggal 30 September pagi, dan tiba di Kobisonta dinihari Jumat, tanggal 1 Oktober 2021. Sesuai jadwal, saya akan menggelar Bimtek selama 3 hari di 3 tempat, dengan tema yang berbeda.

 

Tanggal 1 Oktober Bimtek berlangsung di Kobisonta bersama petani tanaman pangan, pada kecamatan Kobi dan Seti. Tanggal 2 Oktober, bersama petani tanaman cengkeh dan pala di Negeri Saleman, dan tanggal 3 Oktober bersama petani/peternak di Kota Masohi.

Sebagaimana yang saya sampaikan pada saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Kementan RI, bahwa Bimtek sangat dibutuhkan oleh masyarakat, dan harus dilaksanakan secara berkala guna meningkatkan kapasitas dan kualitas sumberdaya manusia pertanian, dan juga bagi penyuluh pertanian.

Tema pada 3 Bimtek ini bervariasi sesuai dengan jenis komoditinya. Dalam sambutan kepada petani tanaman pangan, saya menyampaikan bahwa pemerintah dalam hal ini Kementan menjalankan fungsi yang berhubungan dengan peningkatan produktifitas.

Produktifitas ini, menurut saya, dipengaruhi berbagai faktor. Akses modal atau investasi yang dimiliki petani, sarana prasara produksi, teknologi pasca panen dan jaminan pasar yang tersedia untuk menyerap hasil panen dari petani. Secara umum kami juga sering mendapatkan masukan dari aspirasi dari para petani.

Kegiatan Bimtek yang digelar di Kobisonta dihadiri Camat Seti, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Maluku Tengah Arsad Slamat, dan jajaran Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Maluku.

Tema utama yang diangkat dalam Bimtek yaitu: “Peningkatan Inovasi Teknologi Pertanian”. Tema ini diangkat sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk mendukung upaya peningkatan produksi padi, khususnya untuk penguasaan teknologi oleh petani. Agar dapat meningkatkan perekonomian petani maka diharapkan produksi pangan khusunya padi harus meningkat.

Jika bicara produktifitas, maka dalam hal ini untuk konteks Maluku Tengah sebagaimana data yang disampaikan Kadis Pertanian Maluku Tengah, dalam paparan data lahan potensial, saya mencatat Luas lahan sawah tercetak 9.561 Ha, sawah yang baru tergarap 6.082 Ha dan yang produktif 3,140 Ha.

Apabila sawah tercetak semua tergarap produktif dengan produktifitas 5,0 Ton /Ha dan satu tahun ada 2 musim tanam maka akan didapat hasil padi 9,561 x 2 x 5 Ton = 95.610 Ton GKG atau 57,366 Ton beras.

Jika penduduk Maluku tengah 450.000 jiwa dengan konsumsi per kapita nasional adalah 108 kg/jiwa maka dibutuhkan 450.000 x 108 kg = 48.600 Ton.

Produksi beras kebutuhan 57,367 T – 48.600 Ton = 8.766 Ton. Dan itu berarti masih surplus sebenarnya produktifitas yang bisa dipasarkan untuk kebutuhan pasar Maluku.

Terkait dengan potensi tersebut, maka pentingnya investasi di bidang pertanian, yang mestinya lebih diarahkan untuk kesejahteraan masyarakat.

Persoalan yang dikeluhkan masyarakat adalah bagaimana caranya agar persoalan masyarakat petani bisa diselesaikan, karena ternyata permodalan yang diberikan kepada masyarakat disediakan bank, tetapi dengan anggunan sertifikat dan bunga bank.

Beras kadang tidak bisa diserap oleh Bulog, padahal sudah ada gudang yang dibangun, dan bagaimana agar bisa mengakses bantuan pemerintah khususnya mesin combign panen padi dan lain-lain.

Berbagai masukan menjadi catatan bagi saya dan dinas serta BPPT untuk dicari jalan keluarnya.

Saya berharap petani peserta Bimtek ini, menjadi pioner atau menjadi penyuluh individu yang mampu menyampaikan ilmunya di lingkungannya masing-masing, agar dapat melakukan pembaharuan terkait dengan ketersediaan teknologi dengan lingkungan yang dinamis dan cocok untuk diterapkan.

Dari materi yang dipaparkan BPPT sebagai peneliti yang harusnya menjadi akselerasi diseminasi penerapan inovasi kepada petani. Ini dapat berimplikasi pada peningkatan kesejahteraan petani.

Saya mengucapkan terimakasih kepada para petani, kepada Camat Seti, Kadis Pertanian Maluku tengah, yang sudah menghadiri dan mendengarkan aspirasi petani, kepada semua jajaran BPPT Maluku yang bekerjasama dalam menggelar kegiatan bimtek. Semoga segala upaya dan ikhtiar menjadi amal kebaikan.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Berita Serupa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button