AmboinaEkonomiEkonomi & Bisnis

Vanath Soroti Minimnya Investasi dan Lapangan Kerja Formal di Maluku

potretmaluku.id – Pertumbuhan ekonomi Maluku mencapai 5,31 persen pada triwulan II 2026. Namun, peningkatan itu belum sepenuhnya menjawab persoalan investasi, keterbatasan lapangan kerja formal, dan ketergantungan daerah terhadap pasokan barang dari luar wilayah.

Persoalan tersebut disampaikan Wakil Gubernur Maluku Abdullah Vanath dalam Maluku Business Forum 2026 yang diselenggarakan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Organisasi Wilayah Maluku di Hotel Santika Ambon, Minggu, 1 November 2026. Forum itu menghadirkan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Muhammad Jusuf Kalla.

Vanath mengatakan pertumbuhan ekonomi Maluku menunjukkan peningkatan dalam dua tahun terakhir. Pada 2025, ekonomi daerah tumbuh 4,56 persen. Angkanya meningkat menjadi 5,16 persen pada triwulan I dan 5,31 persen pada triwulan II 2026.

Meski demikian, menurut Vanath, peningkatan tersebut belum diikuti penguatan investasi dan aktivitas sektor swasta secara memadai. Kondisi itu berdampak pada terbatasnya penciptaan lapangan kerja, terutama pekerjaan formal.

“Problem di Maluku itu kurangnya investasi, sehingga lapangan kerja menjadi tidak maksimal. Kalaupun ada, lebih banyak bersifat informal. Lapangan kerja formal masih sangat terbatas,” kata Vanath.

Ia juga menyoroti perputaran uang yang dinilai belum optimal di dalam daerah. Sebagian penghasilan masyarakat, termasuk aparatur pemerintah, TNI, dan Polri, belum sepenuhnya dibelanjakan untuk produk dan jasa lokal.

Akibatnya, menurut dia, aktivitas ekonomi yang berlangsung di Maluku belum seluruhnya menghasilkan dampak berantai bagi pelaku usaha dan masyarakat setempat.

Ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah juga menjadi perhatian. Vanath menyebut sebagian besar kebutuhan pangan dan material konstruksi masih didatangkan dari luar Maluku, terutama Pulau Jawa. Sementara itu, produksi padi di kawasan transmigrasi baru berada pada kisaran 30 persen.

“Kita menerima barang dan program pembangunan, tetapi uangnya tidak seluruhnya berputar di sini. Persoalan seperti inilah yang perlu kita pikirkan bersama agar aktivitas pembangunan benar-benar memberikan dampak bagi perekonomian masyarakat Maluku,” ujarnya.

Sektor pertanian yang menjadi salah satu penopang ekonomi daerah juga menghadapi tekanan. Vanath menyebut fenomena El Niño memicu kekeringan dan kebakaran di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut berdampak terhadap lahan pertanian serta tanaman perkebunan masyarakat, termasuk cengkih dan pala.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan ekonomi Maluku tumbuh 5,31 persen secara tahunan pada triwulan II 2026. Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi antara lain ditopang sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan, administrasi pemerintahan, serta perdagangan.

Bank Indonesia mencatat pertumbuhan pada periode yang sama juga didorong konsumsi rumah tangga, investasi, dan konsumsi pemerintah. Data ini menunjukkan bahwa sumber pertumbuhan ekonomi Maluku berasal dari sejumlah komponen, meskipun Vanath menilai kontribusi investasi dan sektor swasta masih perlu diperkuat.

Di tengah persoalan tersebut, Vanath berharap Jusuf Kalla dapat memberikan pandangan mengenai strategi mendorong investasi, memperluas lapangan kerja, memperkuat sektor swasta, dan meningkatkan produktivitas ekonomi lokal.

Menurut Vanath, pengalaman Jusuf Kalla sebagai praktisi ekonomi dan mantan wakil presiden dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan pembangunan ekonomi Maluku.

Maluku Business Forum 2026 diselenggarakan sebagai ruang diskusi antara pemerintah, kalangan cendekiawan, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan lainnya. Forum ini juga menjadi kesempatan untuk membicarakan pemanfaatan potensi daerah, pengembangan investasi, dan penguatan sektor ekonomi unggulan.

Kegiatan tersebut dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Maluku, pengurus ICMI, Ketua Dewan Pers Indonesia, Sekretaris Daerah Maluku, Wali Kota Ambon, Bupati Maluku Tenggara, pimpinan perguruan tinggi, serta perwakilan perbankan dan dunia usaha.(TIA)


Penulis :
Editor :

Berita Serupa

Back to top button