Pendapat

Pager dan Reportase Bermodal Telepon Koin

Kenangan Seorang Jurnalis Radio

Jangan pikir, begitu sudah dapat nama dan nomor telepon, urusan jadi beres. Tidak semudah itu Sebastio hehehe.

Saya kasih contoh. Saat narasumber yang saya mau hubungi bernama Andi Sumange Alam, saya akan cari nomor kontaknya di buku Yellow Pages. Ternyata ada 6 (enam) orang punya nama yang sama, tentu dengan alamat dan nomor kontak yang berbeda-beda.

Untuk memastikan Andi Sumange Alam mana yang saya mau wawancarai, maka saya akan hubungi satu demi satu nomor telepon itu.

Terkadang, saya hanya dapat nama orang yang saya mau wawancarai, dan sama sekali tidak punya nomor teleponnya. Untuk kasus seperti ini, saya mesti menelepon Call Center 147 Telkom. Saya akan bertanya ke operator, untuk mendapatkan nomor kontaknya.

Kalau belum ketemu nama yang dimaksud, saya akan telepon ulang, dengan diselingi jeda beberapa menit. Harapannya, saat telepon ulang, operator lain yang mengangkat dan saya bisa minta nomor yang berbeda.

Ribet? Ya seperti itulah kerja saya. Belum lagi saya mesti menyediakan uang koin terlebih dahulu, yang saya tukar di ga’de-ga’de (kios). Pecahan koin yang berlaku saat itu adalah koin 100, 500, dan 1.000.

Lama pembicaraan tergantung nominal koin yang dimasukkan. Selama percakapan atau menelepon, layar telepon umum akan memperlihatkan durasi pembicaraan.

Bila layar berkedip-kedip menunjukkan angka 0000, artinya koin sudah harus dimasukkan lagi. Kalau tidak, pembicaraan otomatis berhenti.

Keberadaan telepon umum ini tidak berada di semua sudut kota. Hanya di tempat-tempat tertentu saja, seperti pasar, terminal, depan pertokoan, dekat halte, sekitar area sekolah dan kampus, atau di kompleks perumahan.

Sayangnya, tidak semua telepon umum ini terawat baik. Kadang tidak bisa dipakai karena rusak atau gagangnya copot oleh ulah vandalisme. Nah, di situlah repotnya.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3 4Next page

Berita Serupa

Back to top button