Nyong, Lalah Kapaeee? Evan dan Langkah Kecil dari Kepala Air ke Galala
Dari Kepala Air sampai Jembatan Galala bukan jarak pendek, apalagi bagi kaki seorang anak berusia lima tahun.
Ia sempat bertanya kepada Evan. “Jang iko lai, ya Evan?”
Evan menolak. “Jang, Mama. Orang tua harus mendukung.”
Jawaban itu membuat ibunya memilih tidak lagi menghalangi.
“Katong musti kasi semangat ana-ana,” kata Mama Meigy.
Maka ia membiarkan Evan mencoba. Bukan berarti tanpa cemas.

Sepanjang perjalanan, perhatian Mama Meigy tetap tertuju kepada anaknya. Ia memperhatikan langkah Evan, wajahnya, dan terutama keceriaannya.
Bagi keluarga itu, keceriaan adalah tanda penting.
“Ini Evan ceria terus-terus, seng murung-murung. Kalo dia murung, katong su tau itu badannya seng enak,” ujar Meigy.
Karena itu, sepanjang rute, kekhawatirannya perlahan berkurang. Evan berjalan sambil tertawa.
Ketika ditanya apakah capek, jawabannya tetap sama. “Seng cape.”
Ceria sampai garis akhir
Sekitar pukul 17.30 WIT, setelah menempuh perjalanan satu setengah jam, barisan Evan tiba di Jembatan Galala.
Ia kemudian duduk. Bukan karena menyerah. Hanya mengambil jeda setelah perjalanan panjang.
Ketika seseorang kembali menggoda dengan pertanyaan, “Nyong, lalah kapaeee?”, Evan tetap menggeleng.
Baginya, duduk sebentar dan berhenti bergerak adalah dua hal berbeda.
“Kalo beta diam itu beta saki.” Barangkali begitulah cara seorang anak lima tahun memahami tubuhnya.
Ia terbiasa bergerak. Berlari, bermain, berjalan, berlatih. Diam terlalu lama justru membuatnya merasa tidak nyaman.
Di sela percakapan, Evan bercerita tentang cita-citanya. Ia ingin bekerja di Pertamina. Sebelumnya, ia ingin menjadi anggota Brimob. Namun setelah mendengar komentar bahwa penghasilannya sedikit, cita-cita itu bergeser.
Begitulah dunia anak-anak. Cita-cita bisa berubah karena satu percakapan, satu tontonan, atau satu kalimat dari orang dewasa.
Namun pada usia lima tahun, barangkali yang paling penting bukanlah seberapa lama sebuah cita-cita bertahan. Yang penting, Evan sudah belajar mempunyai sesuatu yang ingin dituju.
Pada Sabtu sore itu, tujuannya sederhana: berjalan sampai garis akhir. Dan ia berhasil.
Tidak semua peserta pulang membawa piala. Tidak semua perjuangan di lintasan mendapat nama di papan pengumuman.
Evan pun tidak membawa pulang trofi. Ia membawa sesuatu yang lain: pengalaman bahwa kaki kecilnya mampu menempuh jarak yang sebelumnya membuat ibunya khawatir.
Sementara Mama Meigy pulang dengan keyakinan baru bahwa membiarkan anak mencoba kadang memang berarti menahan sedikit rasa cemas.
Satu setengah jam perjalanan dari Kepala Air ke Galala akhirnya selesai.
Matahari mulai turun. Evan sudah duduk di garis akhir. Dan ketika ditanya sekali lagi apakah ia lelah, jawabannya masih sama.
“Seng cape.”(*)
* Yeni Krisnawati, adalah mahasiswa magang dari Program Studi Ilmu Komunikasi pada Fakultas Ilmu Sosial Keagamaan, Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Ambon.
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



