Nada Damai dari Timur: Diplomasi Musik Ambon di Forum Budaya Internasional Jinju Korea Selatan
Selepas sesi formal, diskusi panel dilanjutkan secara informal di luar aula. Direktur AMO dikerumuni oleh mahasiswa, peneliti, dan seniman lokal yang ingin tahu lebih jauh tentang Ambon dan tradisinya.
Jinju dan Ambon memang sudah tidak asing satu sama lain. Meskipun berada di kluster berbeda dalam jejaring UNESCO Creative Cities Network (UCCN)—Jinju sebagai kota kerajinan dan seni rakyat, Ambon sebagai kota musik—keduanya telah menjalin kerja sama budaya sejak 2022.
Kerja sama itu dimulai dari pertukaran dokumentasi budaya, lalu berkembang menjadi program nyata: pertunjukan bersama, lokakarya, dan pertemuan seniman. Dukungan utama datang dari Jinju Culture and Tourism Foundation, lembaga yang berperan sebagai penggerak utama inisiatif budaya kota itu.
Pada pagi sebelum forum dimulai, sebuah pertemuan berlangsung di ruang kerja Wali Kota Jinju. Direktur AMO bertatap muka dengan Jo Kyoo-il, wali kota yang dikenal progresif dalam kebijakan budaya, serta Prof. Jeong Byung-Hoon, akademisi yang menjadi focal point UNESCO untuk Jinju.
Di pertemuan itulah, sejumlah program lanjutan disepakati: keterlibatan Komunitas Ambon City of Music dalam Festival Biennale Jinju pada September 2025, lokakarya pendidikan kreatif bagi pemuda Ambon di Jinju, serta pengiriman tim musik Korea ke Ambon pada Oktober mendatang dalam rangka perayaan ulang tahun Ambon sebagai Kota Musik UNESCO.

Bagi Ambon, kerja sama semacam ini jauh melampaui aspek pertukaran seni. Ia menjadi cara membangun kembali citra kota yang pernah dilabeli sebagai “zona merah” konflik. Kini, dengan status sebagai satu-satunya Kota Musik UNESCO di Asia Tenggara, Ambon menegaskan posisi barunya di panggung budaya global.
“Banyak kota besar bicara diplomasi budaya, tapi dari kota kecil seperti Ambon, kita belajar bahwa perdamaian bisa lahir dari gitar, bukan dari senjata,” ujar salah satu peserta.
Tidak hanya diplomasi antarnegara, model ini juga relevan untuk komunitas yang tengah mengalami fragmentasi sosial di berbagai belahan dunia. Musik yang menyatukan, dan budaya yang menyembuhkan.
Di akhir forum, saat para delegasi berjalan menuju ruang pameran kerajinan rakyat Jinju, seorang mahasiswa Korea mengulurkan tangan pada Direktur AMO. “Saya ingin datang ke Ambon,” katanya dalam bahasa Inggris terbata-bata, “dan belajar bagaimana kalian menyanyikan perdamaian.”(*)
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



