Internasional

Nada Damai dari Timur: Diplomasi Musik Ambon di Forum Budaya Internasional Jinju Korea Selatan

Ketika kekuatan nada dan kearifan lokal dibawa melintasi laut dan budaya, dari Ambon ke Korea Selatan.

Oleh: Embong Salampessy (potretmaluku.id)


Sinar matahari musim panas memantul di atap kaca Balai Kota Jinju, sebuah kota bersejarah di bagian selatan Korea Selatan yang sedang merayakan satu dekade penobatannya sebagai Kota Kreatif UNESCO. Di dalam aula utama, delegasi dari berbagai negara tampak memenuhi kursi-kursi yang disusun rapi. 

Dalam balutan kemeja hitam dan berkalung selendang, Direktur Ambon Music Office (AMO) melangkah ke podium dengan tenang. Tak lama kemudian, lantunan instrumen musik tradisional Ambon, yang direkam dalam latar presentasi, mengisi ruangan, mengantarkan hadirin pada cerita damai dari sebuah kota kecil di timur Indonesia: Ambon.

Tanggal 10 Juni 2025 menjadi penanda penting bagi kerja sama budaya antarbangsa. Kota Jinju menyelenggarakan Forum Akademik Internasional bertema besar Culture and Crisis—budaya dan krisis. 

Forum ini menjadi bagian dari rangkaian perayaan 10 tahun Jinju bergabung dalam jejaring Kota Kreatif UNESCO. Para pembicara datang dari universitas-universitas terkemuka di India, Australia, Estonia, dan Korea Selatan. Namun, salah satu sesi yang paling mencuri perhatian datang dari ujung timur Indonesia.

Direktur Ambon Music Office yang juga Focal Point Ambon UNESCO City of Music, serta Regional Coordinator Asia-Pacific UNESCO Cities of Music ini, tampil membawakan topik yang tidak biasa di forum akademik: “Penyelesaian Konflik Menggunakan Budaya dan Musik.” Ia bukan hanya akademisi, tapi juga praktisi budaya yang mengangkat narasi tentang penyembuhan luka kolektif masyarakat Ambon melalui musik dan nilai-nilai adat.

korea selatan
Direktur Ambon Music Office, Ronny Loppies.(Foto: Dok. Ronny Loppies)

“Setelah konflik komunal di awal 1999, musik menjadi media utama untuk membangun ulang kepercayaan,” ujarnya di depan audiens internasional. “Tapi musik saja tidak cukup. Ia harus didukung oleh nilai budaya yang hidup dan mengikat.”

Dua pendekatan utama yang dipaparkan adalah penggunaan musik Ambonese sebagai bahasa perdamaian, serta penguatan kembali prinsip Pela dan Gandong, kearifan lokal yang menekankan ikatan kekeluargaan antar-komunitas yang berbeda agama maupun etnis. Dalam tradisi Maluku, dua negeri yang berbeda bisa menjadi “saudara gandong” dan terikat janji damai yang sakral—tanpa perlu lembaga formal negara.

Forum ini terbagi dalam tiga sesi tematik: Krisis Iklim dan Respon Budaya, Perang, Bencana dan Budaya, serta Pemulihan Komunitas dan Budaya. Dalam sesi ketiga itulah, paparan dari Ambon mendapat sambutan hangat. Beberapa akademisi dari luar negeri bahkan menyebut pendekatan itu sebagai contoh nyata bagaimana budaya bukan hanya artefak, tapi perangkat hidup untuk resolusi konflik.

“Very inspiring,” ujar beberapa peserta setelah sesi berakhir. “Kita sering mendiskusikan teori rekonsiliasi, tapi jarang mendengar model komunitas seperti ini yang benar-benar tumbuh dari bawah.”


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

1 2Next page

Berita Serupa

Back to top button