“Tidak ji, Om. Pake kameranya ji pengunjung,” jawabnya.
Saya memang tak melihat dia memegang HP. Hanya tas hitam yang diselempang.
Dia kemudian memperlihatkan hasil jepretannya.
Wah bagus. Sudut pengambilannya unik. Komposisinya pas. Dan tampaknya dia mengutak-atik fitur pada kamera. Itu terlihat dari latar belakang foto yang disetel agak blur.
Saya memujinya dan mengucapkan terima kasih. Tak lupa saya berikan selembar Rp10.000.
Anak itu kembali meminta saya pindah ke arah kanan dari tulisan Pantai Losari. Katanya, dia mau mengambil gambar dengan latar masjid yang lebih menonjol.
Setelah dia memotret, saya kembali memeriksa hasil kerjanya. Lagi-lagi saya memujinya dan menyampaikan terima kasih.
Ahad sore itu, 24 Agustus 2025, cuaca Kota Makassar begitu bersahabat. Pengunjung di Anjungan Pantai Losari tak terlalu ramai. Hanya ada beberapa bule dan turis lokal. Saya sempat berinteraksi dengan mereka di Losari yang hari itu tampak bersih.
Suasana nyaman itu yang membuat saya tergerak memotret. Sembari mengisi waktu, sebelum berbagi pengalaman menulis dengan Perempuan PGRI Sulawesi Selatan di atas kapal Pinisi.
Setelah ngobrol sebentar dengan Mualim, saya alihkan pandangan ke arah 3 anak muda yang sedang mengabadikan momen mereka di salah satu destinasi wisata favorit ini. Saya datangi mereka. Ternyata mereka mahasiswa Politeknik ATI (Akademi Teknologi Industri) Makassar.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi




