Minoritas Damai di Tengah Mayoritas Kristen
Sebab, kesan pertama ketika datang di Pulau Kisar yaitu Batu Karang atau tidak ada kehidupan. Kesan ini juga selalu diceritakan oleh masyarakat Kisar bagi para pendatang.
Menurut beta, Honoli telah menjadi modal sosial dalam kehidupan bersama masyarakat di Pulau Kisar, termasuk menghargai umat muslim yang sedang beribadah tanpa harus menjaga keamanan di depan Masjid, semacam yang terjadi di Ambon. Padahal, masyarakat Kisar memiliki cerita pahit dengan masyarakat muslim Buton.
Pada tahun 1986, Peristiwa tenggelamnya Perahu Layar Sumber Agung menjadi kedukaan bagi seluruh masyarakat di Pulau Kisar. Perahu Layar Sumber Agung hendak berlayar dari Ambon menuju Kisar, tetapi di tengah perjalanan nasib tragis menimpa para penumpang.
Peristiwa itu membuat mereka (orang Kisar yang tenggelam) yang hendak kembali ke kampung halamannya, harus kembali ke sang pencipta.
Kuat dugaan, mereka dibunuh oleh masyarakat Buton yang menjadi kru perahu layar, sebab seluruh Anak Buah Kapal (ABK) yang adalah masyarakat Buton, selamat, sedangkan masyarakat Kisar yang adalah penumpang, mati. Pemilik Perahu Layar Sumber Agung adalah La Joro, yang sedari dulu telah bermigrasi dari Buton ke Kisar.
Peristiwa tersebut membuat sebagian masyarakat Buton di Pulau Kisar harus keluar dan pergi, sedangkan sebagai yang lain memilih tetap menetap.
Pasca peristiwa tenggelamnya perahu layar, tidak ada tindakan destruktif yang dirasakan oleh mereka yang memilih menetap di Pulau Kisar, termasuk hingga saat ini.
Relasi Kristen-Islam di Pulau Kisar berlangsung dalam keseharian secara natural yang begitu indah, tanpa ada paksaan. Relasi secara natural berkelindan dalam tindakan keseharian, termasuk prinsip kebudayaan yang berlangsung setiap hari.
Kelangsungan tersebut saling memberi rasa aman dan nyaman berdampak dalam keseharian yang kian kuat. Bahkan, turut terlibat bersama dalam pembangunan Gedung Gereja Gerisim, Jemaat GPM Wonreli yang berlokasi di Desa Kota Lama.
Relasi yang secara natural muncul dalam tindakan keseharian, membuat masyarakat tidak terlihat menampilkan paksaan yang jatuhnya pada kamuflase atau telah didesain dengan baik.
Persoalan minor-mayor hanya sekadar subjektivitas yang terkamuflase dalam ruang keseharian. Relasi secara natural dalam hubungan antaragama dapat melampaui batasan imajinasi dan tindakan destruktif yang kian menguatkan dalam realitas keindonesiaan.
Tindakan destruktif dalam kehidupan antaragama di Indonesia menjadi salah catu contoh buruk terhadap kebersamaan beragama. Namun, masyarakat Kisar yang berada di pulau terluar dan terdepan Indonesia mampu melaksanakan keharmonisan antaragama dibanding dengan kemajuan daerah-daerah maju yang kuat dalam imajinasi dan tindakan destruktif keagamaan.
Hari ini (22 April 2023) bukan hanya masyarakat muslim di Pulau Kisar yang merayakan hari lebaran, tetapi seluruh umat muslim di Indonesia, termasuk beta punya Gandong Ambalau dan para kerabat.
Idul Fitri merupakan hari kemenangan bagi umat muslim. Umat Kristiani di Pulau Kisar juga turut terlibat merayakan kemenangan tersebut, melalui anjangsana dari rumah ke rumah, termasuk anak-anak kecil Kristen.
Memang, 2 (dua) Minggu lalu, umat Kristiani juga merayakan kemenangan, atas peristiwa iman Kebangkitan Yesus. Selamat merayakan Idul Fitri bagi seluruh umat muslim. Inilah cerita kami, di daerah perbatasan Indonesia, yang telah menerapkan Pancasila dalam keseharian.
Terima kasih Kaka Pati Herin untuk judul ini, kala berbincang sedari Pastori Wonreli ke Pastori Yawuru.(*)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



