AmboinaNasional

Menyulam Dunia dari Kota-kota Kreatif

Peran Kota Kreatif UNESCO Indonesia dalam Diplomasi Budaya

Puncak dari pertemuan ini adalah pembicaraan tentang keikutsertaan Indonesia dalam UCCN Annual Conference 2025 di Enghien-les-Bains, Prancis. Konferensi ini bukan sekadar ajang seremonial. 

Ia akan meneruskan semangat Braga Manifesto, sebuah dokumen penting yang menegaskan budaya sebagai elemen transformasi dalam pembangunan global. Di forum itu, para kota akan bicara: bukan sebagai perpanjangan dari negara, tetapi sebagai entitas kultural yang otonom, kreatif, dan berdaya.

Namun pertemuan di Jakarta itu bukan hanya tentang luar negeri. Di dalam negeri, konsolidasi ini hendak menjawab kebutuhan dasar: bagaimana pemerintah pusat dan daerah, kota besar dan kota kecil, bisa saling belajar dan berbagi. 

ICCN menyadari bahwa tidak semua kota bisa atau perlu menjadi bagian dari jejaring UCCN. Tapi semangat kota kreatif bisa ditanam di mana saja. “Tiap kabupaten dan kota punya potensi kultural yang khas. Mereka bisa saling menginspirasi dan memperkuat ekosistem ekonomi kreatif nasional,” kata Tb. Fiki Satari, Ketua Umum ICCN.

Ia menambahkan bahwa pertemuan ini bukanlah yang pertama, tapi bisa menjadi titik balik. Dengan dukungan sistemik dari Kementerian Kebudayaan dan kolaborasi yang semakin kuat antar kota, berbagai program yang sudah berjalan dapat diperluas dan diperkuat. Dokumen usulan dan peta jalan kolaborasi kini tengah disusun agar segera dapat ditindaklanjuti secara lintas direktorat.

Giring Ganesha, dalam penutupnya, menyatakan dukungannya penuh. Ia melihat kota kreatif sebagai bentuk nyata dari soft power Indonesia. “Program yang dibawa para focal point ini bisa jadi model untuk lintas direktorat di kementerian, bahkan bisa mendorong kepala daerah lebih aktif,” ujarnya.

Pertemuan itu berakhir menjelang siang. Namun percakapan tidak berhenti di meja bundar itu. Di media sosial, lewat akun @jakartacityoflit, berbagai kegiatan dan inisiatif terus disiarkan kepada publik. Literasi, musik, desain, dan kerajinan hidup bukan karena program-program besar, melainkan karena semangat kecil yang dihidupkan bersama.

Dan di tengah perayaan ulang tahun Jakarta yang ke-498 pada 22 Juni nanti, kota ini tak hanya merayakan usia. Ia merayakan posisinya sebagai bagian dari peta dunia—sebuah kota yang menulis dirinya sendiri ke dalam cerita umat manusia lewat budaya, kreativitas, dan kerja lintas batas.(ZAI)

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3

Berita Serupa

Back to top button