AmboinaNasional

Menyulam Dunia dari Kota-kota Kreatif

Peran Kota Kreatif UNESCO Indonesia dalam Diplomasi Budaya

Pierre datang tidak hanya membawa data. Ia datang membawa cerita tentang gelombang baru dari Timur Indonesia. Musik, katanya, sedang tumbuh subur di tanah-tanah rempah. 

Dan Ambon, kota yang pernah menjadi pusat lalu lintas dunia pada abad ke-16, kini kembali menjadi hotspot penting dalam peta musik Indonesia, bahkan Asia Pasifik. 

Ia menyebut rencana Amboina International Music Festival 2025, sebuah inisiatif yang bukan hanya ingin memperdengarkan suara Maluku, tetapi juga mengundang dunia untuk duduk dan mendengar.

Sementara itu, dari sisi sastra, Laura Bangun Prinsloo berbicara tenang namun penuh daya. Sejak Jakarta masuk dalam jejaring UNESCO Creative Cities Network (UCCN) pada 2021 sebagai City of Literature, ia dan timnya telah menjalin jaringan kolaborasi lintas benua. 

Ada Exeter dan Norwich di Inggris, Melbourne di Australia, Nanjing di Cina, hingga Praha di Republik Ceko. Juga kemitraan lintas sektor, seperti dengan Shanghai sebagai City of Design dan Kuching dari jalur gastronomi.

Laura menyebut program residensi penulis dan ilustrator Indonesia yang telah menyebar ke 21 kota di 16 negara. “Kota kreatif bukan sekadar label internasional. Ini adalah peluang konkret untuk membangun ekosistem budaya yang berdampak langsung,” ucapnya. 

Jakarta, katanya, ingin memberi kontribusi nyata dalam percakapan global tentang sastra, literasi, dan diplomasi budaya. Salah satu hasil nyatanya: Taman Literasi Christina Martha Tiahahu di Blok M, yang kini menjelma menjadi ruang publik aktif, tempat buku, ide, dan kebersamaan bisa tumbuh beriringan.

Langkah terbaru Jakarta City of Literature ialah ikut serta dalam International Literature Exchange (ILX), yang digagas oleh kota Norwich. Bersama Bucheon, Lviv, dan Odessa, Jakarta mengirim penulisnya untuk tinggal, menulis, dan berjejaring, sekaligus mengundang dunia datang dan membaca Indonesia dari dekat. 

Program ini mengadopsi model dari British Council dan National Centre for Writing, yang sejak 2012 telah mempertemukan lebih dari 150 profesional sastra dari 51 negara.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3Next page

Berita Serupa

Back to top button