Mama Ivon, Es Sarang Burung, dan Rezeki di Tengah Keramaian
Oleh: Maryo Melson Kapitan *)
Menjelang tengah hari, kawasan Galala dan Hative Kecil, Ambon, mulai dipenuhi orang. Barisan peserta Lomba Baris Indah bergerak di bawah matahari yang terik. Di sepanjang jalan, warga berdiri menyaksikan rombongan yang melintas.
Suara aba-aba bercampur dengan riuh penonton dan lalu lintas kendaraan yang sesekali melambat. Di tengah keramaian, Sabtu, 12 September 2026 itu, Mama Ivon sibuk melayani pembeli.
Di hadapannya berjajar gelas-gelas es sarang burung dan es buah. Minuman dingin itu menjadi pilihan sederhana untuk warga yang membutuhkan pelepas dahaga setelah berlama-lama berdiri di bawah terik matahari.
Bagi perempuan 43 tahun itu, Lomba Baris Indah bukan sekadar tontonan. Keramaian yang tercipta menjadi kesempatan untuk menambah penghasilan.
“Karena ada momen Lomba Baris Indah di Galala dan Hative Kecil. Kebetulan kami juga salah satu guru di desa ini. Ada banyak anak-anak yang ikut kegiatan, jadi kami memanfaatkan kegiatan ini untuk berjualan,” ujar Mama Ivon.
Ia mulai berjualan sekitar pukul 12.00 WIT. Lokasinya dipilih tidak jauh dari garis finis, tempat peserta dan masyarakat berkumpul setelah rombongan menyelesaikan perlombaan.
Pilihan itu bukan tanpa alasan. Semakin ramai orang berkumpul, semakin besar pula kemungkinan dagangannya dibeli. Hari itu, dari es sarang burung dan es buah yang dijajakannya, Mama Ivon memperoleh sekitar Rp200 ribu.
Nilai tersebut mungkin tidak besar jika dibandingkan dengan skala sebuah perhelatan yang mendatangkan banyak orang. Namun bagi pedagang kecil seperti Mama Ivon, setiap pembeli berarti tambahan pemasukan. Apalagi berjualan di tengah keramaian tidak selalu mudah.
Ini merupakan kali pertama Mama Ivon berjualan di lokasi tersebut. Sebelumnya, ia sempat membuka lapak di depan sebuah toko. Namun ia kemudian berpindah setelah merasa keberadaannya membuat pedagang lain kurang nyaman. Ia memilih tidak memperpanjang persoalan.
“Kalau berjualan di sampingnya sebenarnya tidak ada masalah. Rezeki seseorang itu Tuhan sudah atur,” katanya.
Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi bagi Mama Ivon, keramaian semacam ini memang selalu menyimpan peluang yang bisa dimanfaatkan siapa saja.
Bukan hanya pedagang minuman. Selama Lomba Baris Indah berlangsung, berbagai aktivitas ekonomi kecil ikut tumbuh di sekitar lokasi. Warga yang datang menonton membutuhkan makanan, minuman, dan berbagai keperluan lain. Bagi sebagian orang, keramaian menjadi ruang untuk mendapatkan penghasilan tambahan.
Mama Ivon juga memperhatikan situasi di jalan. Arus kendaraan cukup padat selama perlombaan berlangsung. Namun menurut dia, petugas kepolisian lalu lintas membantu mengatur kendaraan sehingga kondisi tetap aman dan terkendali.
Dari tempatnya berjualan, ia juga menyaksikan perjuangan para peserta.
Matahari yang menyengat menjadi tantangan tersendiri bagi mereka yang harus berjalan dan berbaris hingga mencapai garis finis. Mama Ivon bahkan melihat sejumlah peserta jatuh dan pingsan setelah menyelesaikan perlombaan.
“Memang ada peserta yang selesai masuk finis ada yang pingsan, mungkin karena cuaca terlalu terik,” tuturnya.
Di sela-sela keramaian itu, Mama Ivon tidak bekerja sendirian. Beberapa temannya turut membantu menyiapkan dan melayani pembeli.
Hari beranjak sore. Barisan peserta terus bergerak melewati jalur perlombaan. Penonton datang dan pergi. Kendaraan melintas dengan pengaturan petugas. Di tengah semua itu, Mama Ivon tetap berada di tempatnya, menunggu pembeli berikutnya.
Baginya, Lomba Baris Indah telah menjadi lebih dari sekadar perhelatan yang menghibur masyarakat. Ada kesempatan ekonomi yang muncul dari kerumunan itu, meski hanya berlangsung selama kegiatan.
Ia berharap pelaksanaan Lomba Baris Indah pada masa mendatang dapat berlangsung lebih baik.
“Harapannya, semoga pelaksanaan ke depan lebih baik dari hari ini,” katanya.
Di antara suara aba-aba, langkah kaki peserta, teriknya matahari, dan kerumunan penonton yang menanti barisan mencapai finis, gelas-gelas es sarang burung dan es buah Mama Ivon menjadi bagian kecil dari cerita lain tentang sebuah perhelatan.
Di sana, ketika sebagian orang datang untuk menonton, sebagian lainnya datang membawa kesempatan untuk pulang dengan membawa rezeki.(*)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
* Maryo Melson Kapitan, adalah mahasiswa magang dari Program Studi Ilmu Komunikasi pada Fakultas Ilmu Sosial Keagamaan, Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Ambon.
Penulis :
Editor :



