Kenikmatan Nasi Pulut Siram Tulehu: Perjalanan Malam yang Tak Terlupakan

Perjuangan di Balik Kenikmatan
Mama Biba bercerita bahwa awalnya ia mulai berjualan pada tahun 1999 karena terpaksa harus menghidupi anak-anak setelah berpisah dengan suaminya.
“Waktu pertama jualan itu seng ada modal. Jadi beta pinjam dulu sembako di salah satu toko, ambil 70 kg pulut (beras ketan). Saat itu harganya per karung masih Rp 10.000. Kalau jualan habis, baru beta bayar lunas biar bisa ambil lagi buat jualan berikutnya,” kenangnya.
Tak disangka, usaha kecil ini bertahan hingga puluhan tahun dan semakin dikenal banyak orang, bahkan sampai ke luar Ambon.
Resep Tak Berubah, Pelanggan Setia
Salah satu alasan Nasi Pulut Siram Mama Biba tetap eksis adalah rasa yang konsisten dan porsi yang murah hati.
“Sekarang sehari bisa habis sekitar 15 kg pulut. Pilihannya ada Nasi Pulut Unti Siram Gula Merah dan Siram Srikaya. Yang paling cepat habis biasanya yang pakai srikaya. Dalam sehari bisa untung sampai Rp 1 juta, tapi tergantung juga, kadang jualan seng habis,” jelas Mama Biba.
Jualan ini bukan hanya menjadi sumber penghidupan, tapi juga cerita keberhasilan Mama Biba sebagai ibu tunggal yang berhasil menyekolahkan anak-anaknya hingga ada yang menjadi tentara.
“Alhamdulillah, dari jualan Nasi Pulut ini beta bisa umroh, anak-anak selesai sekolah, ada yang jadi tentara. Seng sia-sia,” katanya dengan mata berbinar.
Warisan Kuliner untuk Generasi Berikutnya
Kini, Nasi Pulut Siram Mama Biba sudah mulai diteruskan oleh anak-anaknya. Mengingat usianya yang tak lagi muda. Biasanya setelah memasak, Mama Biba akan langsung beristirahat.
“Dari dulu memang jualannya malam, jam 21.00 WIT. Orang-orang sudah tahu jadwalnya. Seng ada libur, kecuali bulan puasa, tapi malam itu jualan pakai cup plastik saja,” tambah Mama Biba sebelum masuk ke kamar untuk beristirahat.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi




