Pendapat

Kedai Kopi, Rekreasi, dan Diskusi Seni Budaya di Pelataran Sao Panrita

PENDAPAT

Pintu Masuk

Obrolan yang dimulai sekira pukul 21.00 itu, sesungguhnya sudah menemukan pintu masuknya. Kegiatan ini mendapat support dari Andi Makmur Burhanuddin, anggota DPRD Kota Makassar, periode 2024-2029.

Ketua Fraksi PKB, yang akrab disapa Noval itu, merespons positif rencana kawan-kawan untuk menyampaikan aspirasi dan berdialog dengan fraksi yang punya 5 kursi di DPRD Kota Makassar tersebut.

Anggota dewan yang punya DNA seniman itu menyadari pentingnya membangun perspektif yang sama. Biar mereka di fraksi bisa membawa wacana dan rekomendasi kalangan seniman ini di alat kelengkapan dewan, sesuai tupoksinya.

Diskusi formal yang ditutup pada pukul 23.45 wita itu, tidak membuat kawan-kawan lantas meninggalkan lokasi. Saya masih berbincang dengan Irwan AR dan Andri.

Saya flashback pada kerja-kerja advokasi di awal reformasi. Betapa tak mudahnya mencari sekutu dengan anggota legislatif. Berbagai strategi lobi dan jejaring dilakukan untuk mendorong perubahan kebijakan publik terkait isu tertentu.

roes
Advokasi yang sama alotnya juga dilakukan terhadap eksekutif. Para aktivis melakukan pengorganisasi pada akar rumput untuk mendorong perubahan. “Partisipasi” dan “transparansi” pada masa itu belum menjadi kosakata yang familier.

Mereka di legislatif dan eksekutif masih kerap berlindung di balik “dokumen negara” dan “rahasia negara”, bila kita bicara APBD dan Ranperda. Beruntung bahwa kita bisa memainkan opini publik melalui media massa. Koalisi aktivis dan jurnalis efektif sebagai pressure group.

PR Peta Jalan

Kini, komunikasi, relasi dan pertemanan sudah kita miliki. Beberapa di antara kita punya akses ke pimpinan dewan, baik level kota maupun provinsi. Ada yang bisa langsung berbicara dengan kepala daerah terpilih. Sengat kolaborasi sudah dimiliki bersama.

Lalu, tinggal apa lagi? Konsep, strategi, program. Mungkin juga semacam peta jalan atau pengarusutamaan kesenian berbasis nilai budaya Sulawesi Selatan.

Malam itu, saya meninggalkan Sao Panrita dalam suasana hati yang semringah. Lampu-lampu hias terlihat berpendar indah di pelataran yang ditumbuhi pohon kersen itu. Langit Makassar tampak berbintang.(*)

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2 3

Berita Serupa

Lihat Juga
Close
Back to top button