
Kegelisahan Kolektif
Kegelisahan, sebagaimana tema yang dibagikan lewat flyer dalam format digital, itu lalu coba dielaborasi. Salah seorang diantaranya adalah Is Hakim.
Perupa ini tak hanya lantang menyampaikan pandangannya, tapi juga melakukan otokritik. Dia mengibaratkan aktivitas kesenian kita di Kota Makassar, beberapa tahun terakhir grafiknya bagai gergaji.
Suara paling vokal juga disampaikan terkait minimnya dukungan fasilitas dan anggaran terhadap para pelaku seni budaya.
Paling kentara bisa dilihat pada tidak adanya gedung kesenian yang representatif di kota bertaraf metropolitan ini. Kondisi ini mirip suara-suara gaduh suporter sepak bola yang menuntut pembangunan stadion bagi kesebelasan kebanggaan, PSM Makassar.
Padahal pemerintah kota kerap mengklaim Makassar sebagai kota dunia. Sayangnya, gedung-gedung yang biasa digunakan untuk pertunjukan seni budaya masih merupakan peninggalan Belanda. Societeit de Harmonie, dan Gedung MULO, misalnya.
Pertukaran Gagasan
Maka diskusi yang dipandu Irwan AR ini menjadi sangat relevan. Mereka yang hadir mencoba memetakan masalah lalu mencari solusi atas problem yang dihadapi, sesuai kebutuhan seniman.
Elaborasi gagasan dan pertukaran ide terjadi dalam suasana yang dialogis dan demokratis. Sesekali terlontar celetukan, untuk memancing gelak tawa. Sebuah kedewasaan sikap yang ditunjukkan, walau dengan argumentasi yang sangat kritis.
Asmin Amin, aktivis Ornop yang bertumbuh di kalangan seniman, menawarkan formula strategi pelestarian dan pengembangan seni budaya. Menurut mantan anggota DPR RI itu, diperlukan 4 pilar dalam strategi advokasi pemajuan seni budaya.
Pertama, mendorong adanya lembaga payung bagi seniman dan budayawan yang independen; Kedua, adanya dukungan regulasi dan pendanaan bagi lembaga seni budaya; Ketiga, terpelihanya kantong-kantong seni budaya di masyarakat; dan keempat, terselenggaranya even seni secara reguler baik berupa festival maupun ritual-ritual lainnya.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi




