Indonesia Tegaskan Jalur Diplomasi di Tengah Ketegangan Iran–Israel
potretmaluku.id — Pemerintah Indonesia menyampaikan keprihatinan mendalam atas meningkatnya eskalasi militer antara Iran dan Israel yang kian memicu ketegangan regional.
Di tengah kecemasan internasional akan potensi pecahnya perang terbuka, Indonesia mengambil posisi tegas dengan menyerukan penghentian kekerasan dan penyelesaian damai melalui jalur diplomasi.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah memuncak dalam beberapa pekan terakhir setelah serangkaian serangan saling balas dilancarkan oleh kedua negara.
Israel melancarkan serangan udara terhadap fasilitas militer di Iran, yang dibalas dengan peluncuran rudal oleh Teheran ke beberapa kota besar di Israel, termasuk Tel Aviv dan Yerusalem.
Situasi ini memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan yang selama dua dekade terakhir tak pernah benar-benar lepas dari bayang-bayang perang.
Di tengah kondisi itu, Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO) Hasan Nasbi menegaskan bahwa posisi Indonesia tetap konsisten dalam menyerukan tiga prinsip utama: mengecam segala bentuk agresi, mendorong de-eskalasi melalui gencatan senjata, dan menyerukan penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi dan hukum internasional.
“Setiap ada konflik, setiap ada perang, pemerintah kita selalu menyerukan tiga hal, dan tidak pernah berubah sampai hari ini,” ujar Hasan dalam keterangannya kepada wartawan di Jakarta, Senin (16 Juni 2025).
Ia menambahkan bahwa Presiden Prabowo Subianto selalu menegaskan sikap tegas terhadap segala bentuk agresi militer, karena dianggap bertentangan dengan prinsip dasar hubungan antarbangsa.
Pemerintah Indonesia juga terus mendorong agar pihak-pihak yang terlibat segera melakukan gencatan senjata guna mencegah jatuhnya korban sipil yang lebih besar.
Selain itu, penyelesaian jangka panjang, menurut pemerintah, harus mengedepankan pendekatan hukum dan diplomasi internasional.
“Jadi enggak akan ke mana-mana, kita akan selalu dalam posisi seperti itu,” ucap Hasan.
Pernyataan tersebut selaras dengan langkah-langkah diplomatik yang selama ini menjadi ciri khas Indonesia dalam merespons konflik internasional.
Dalam forum internasional, termasuk di Perserikatan Bangsa-Bangsa dan ASEAN, Indonesia dikenal sebagai negara yang mengedepankan prinsip nonblok dan kerap mengambil posisi sebagai penengah dalam konflik global. Sikap ini juga tercermin dalam tanggapan Indonesia atas konflik di Gaza dan invasi Rusia ke Ukraina sebelumnya.
Sikap Indonesia tidak berdiri sendiri. Sejumlah negara di kawasan Asia dan Timur Tengah turut menyuarakan keprihatinan serupa.
Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, misalnya, menyerukan agar semua pihak menahan diri, sementara Sekretaris Jenderal PBB António Guterres memperingatkan bahwa konflik antara Iran dan Israel dapat membawa “konsekuensi yang menghancurkan” bagi stabilitas global.
Dalam konteks kawasan, posisi Indonesia juga dipandang strategis karena mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan diplomasi multilateral dan sensitivitas politik luar negeri negara-negara sahabat.
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi sebelumnya menegaskan bahwa segala bentuk kekerasan lintas batas harus dihentikan dan membuka ruang bagi perundingan yang konstruktif.
Presiden Prabowo Subianto sendiri, dalam pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong pekan lalu, kembali menekankan pentingnya gencatan senjata segera dan menegaskan bahwa stabilitas global, termasuk harga energi dan keamanan kawasan, tidak boleh dikorbankan akibat konfrontasi militer yang berkepanjangan.
Langkah Indonesia ini tidak hanya mencerminkan prinsip konstitusional dalam menjaga perdamaian dunia, tetapi juga memperlihatkan peran aktifnya sebagai bagian dari komunitas global yang bertanggung jawab terhadap keberlangsungan keamanan internasional.(ASH)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



