Bupati Maluku Tenggara Ultimatum Penggunaan Nama “Langgur”
potretmaluku.id – Hujan gerimis menyambut peringatan Hari Ulang Tahun ke-14 Kota Langgur, Rabu pagi, 8 Oktober 2025. Di tengah semangat perayaan, suasana berubah hening sesaat ketika Bupati Maluku Tenggara, Muhamad Thaher Hanubun, menyampaikan pidato yang sarat penegasan.
Peringatan hari jadi Kota Langgur tahun ini menjadi momentum bagi Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara untuk meneguhkan identitas ibu kota daerahnya.
Dalam sambutan di hadapan jajaran DPRD, Forkopimda, serta para pimpinan instansi dan organisasi perangkat daerah (OPD), Bupati Thaher memberikan batas waktu tegas bagi seluruh lembaga di wilayahnya untuk mengganti nama “Tual” menjadi “Langgur” dalam penyebutan resmi kelembagaan.
“Kalau masih pakai nama kota lain, silakan pindah. Tanah tempat kalian berdiri itu milik Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara,” ujar Thaher, disambut gumam hadirin yang hadir di acara tersebut.
Ia menyebut, 14 tahun setelah Langgur ditetapkan sebagai pusat pemerintahan kabupaten, masih ada instansi yang tetap memakai nama kota lain dalam identitas kelembagaannya.
Hal ini, menurutnya, mencerminkan kurangnya penghargaan terhadap aturan serta abainya semangat membangun jati diri daerah.
Inti dari teguran itu bukan semata administratif. Bupati Thaher menegaskan, nama wilayah merupakan bagian penting dari kesadaran kolektif atas sejarah dan identitas.
“Pengakuan terhadap nama Langgur adalah simbol kesadaran sejarah dan rasa memiliki terhadap Maluku Tenggara,” ucapnya.
Langkah nyata pun akan diambil. Mulai awal pekan depan, ia berencana melakukan inspeksi dan memanggil langsung dinas atau lembaga yang belum mengganti nama wilayah pada papan nama maupun surat-surat resmi.
“Saya tidak main-main. Senin ini saya akan razia dan panggil semua dinas atau lembaga yang masih memakai nama kota lain,” katanya.
Dalam pidatonya, Bupati juga menyampaikan apresiasi kepada institusi penegak hukum seperti Polres dan Kejaksaan Negeri Maluku Tenggara, yang disebutnya telah lebih dahulu mengganti penyebutan lokasi dari “Tual” menjadi “Langgur”.
Bagi Thaher, penghargaan terhadap nama daerah bukan hanya soal administratif, tapi juga soal kebanggaan dan komitmen membangun daerah. “Kita tidak bisa membangun daerah ini kalau tidak bangga dengan identitasnya,” ujarnya, menutup pidato dengan penuh tekanan.(TIA)
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



