Bagaimana Sebuah Lagu Mengubah Arah Sejarah
Liriknya menyebut nama-nama tokoh yang dianggap simbol ketimpangan, dan menjadi soundtrack bagi film Do the Right Thing karya Spike Lee.
Di belahan dunia lain, lagu juga menjadi pemantik solidaritas global. “Do They Know It’s Christmas?” karya Bob Geldof dan Band Aid pada 1984, misalnya, menggerakkan perhatian dunia pada kelaparan di Ethiopia.
Lagu itu melahirkan konser Live Aid yang mengumpulkan lebih dari US$125 juta, sekaligus membuka jalan bagi proyek-proyek musik untuk tujuan kemanusiaan.
Musik juga memainkan peran penting dalam konflik di luar Amerika. “Sunday Bloody Sunday” dari U2 menyoroti kekerasan di Irlandia Utara pada awal 1980-an. Lirik dan iramanya yang dramatis membawa isu lokal ke perhatian global, mengubah kekacauan politik menjadi emosi universal.
Dalam dekade terakhir, Kendrick Lamar memperkuat tradisi lagu protes dengan “Alright” (2015). Lagu ini menjadi semacam nyanyian penyemangat dalam demonstrasi Black Lives Matter, terutama setelah insiden kekerasan polisi terhadap warga kulit hitam.
“Kita masih butuh musik untuk menyembuhkan,” kata Lamar. Bait “We gon’ be alright” bergema dari auditorium kampus ke jalan-jalan kota.
Salah satu lagu protes paling personal datang dari Sam Cooke dengan “A Change Is Gonna Come” (1964). Terinspirasi dari pengalaman diskriminasi di motel dan semangat Dylan, Cooke menyampaikan harapan dan duka secara bersamaan.
Lagu ini tak hanya menjadi pengiring gerakan hak sipil, tapi juga warisan spiritual yang melampaui batas waktu.
Namun di antara semuanya, barangkali tak ada lagu yang memiliki daya rekat dan kekuatan kolektif seperti “We Shall Overcome”.
Lagu ini, yang berasal dari spiritual Afrika-Amerika dan lagu buruh, menjadi nyanyian wajib dalam aksi-aksi damai di seluruh Amerika, bahkan diadopsi oleh gerakan pembebasan di berbagai negara.
Dari Billie Holiday hingga Kendrick Lamar, dari mimpi John Lennon hingga teriakan Public Enemy, sejarah mencatat bahwa sebuah lagu bisa menggerakkan hati, menyatukan suara, dan mengubah arah zaman.(Festivaltopia/TIA)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



