Di luar Anwar Sadat, ada lagi tiga Anwar yang lain. Satunya birman saya yang sudah senior ia keturunan Buru-Cina. Tak terlampau tinggi, hidungnya mancung, bodynya atletis bak binaragawan. Ketika saya di bangku Sekolah Dasar (SD) ia sudah putus sekolah. Perilakunya mirip preman kampung suka berantem. Jika sudah melihatnya saya bersama teman-teman se kompleks takut.
Saat kuliah saya mendapatinya tidak segarang dulu lagi. Ketika pembangunan danau buatan di kampus negeri terbesar di daerah ini di tahun 1997 lampau, ia nampak menjadi sopir dump truck yang mengangkat material.
Sedangkan Anwar berikutnya ia berdarah Bugis. Ia tetangga yang baik, rambutnya bak landak jika masih pendek, tinggi semampai dan kalem. Ia kawan bermain saya baik itu mandi air laut, bola kaki, roda bekas sepeda motor, mencari ikan di pantai, dan perang-perangan.
Meskipun rumahnya sangat sederhana berupa rumah papan bercat kapur api putih dan beratap rumbia, tapi orang tuanya mengoleksi vinyl (piringan hitam) yang diputar di kala senggang sekedar menghibur diri. Saya sendiri melihat vinyl itu berhamburan di ruang tamu rumahnya. Orang tuanya memiliki cita rasa tinggi dalam dunia musik.
Terakhir Anwar tetangga saya yang keempat, ia berasal dari Buton. Agak jauh rumahnya dari saya. Dari semua Anwar kawan dan tetangga saya, dialah yang paling smart. Lantaran sejak SD, Sekolah Lanjutan Menengah Pertama (SMP) sampai dengan Sekolah Lanjutan Atas (SMA) ia sering naik kelas, dengan bertengger pada rengking satu dan rengking dua. Tak heran jika ia enteng masuk di Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Saat kuliah kita sama-sama se fakultas, namun sayang ia berhenti kuliahnya saat konflik kemanusiaan melanda Ambon di tahun 1999 lampau.
Itu adalah memori tentang nama Anwar yang merupakan teman dan birman saya, yang berkaitan dengan Anwar Sadat Presiden Mesir ke-3, yang pernah di ganjar Nobel Prize di tahun 1978 lampau. Di level nasional ada juga figur berkelas seperti K.H. Anwar Musaddad, seorang ulama dari Jawa Barat. Ia ulama yang berjiwa nasionalis, anti makar dan menolak negara Islam. Pernah diajak oleh Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo Pimpinan Darul Islam/Negara Islam Indonesia (DI/TII) di tahun 1949 lampau untuk bergabung, namun ia menolak untuk bergabung dengan gerakan separatisme itu. (Tirto, 2017).
Begitu pula ada Anwar Abbas, yang merupakan salah satu tokoh Islam yang populer. Ia dalah seorang ulama, akademisi dan ahli ekonomi Islam. Saat ini ia tengah menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI). Sebelumnya, ia merupakan Sekretaris Jenderal MUI (2015-2020) dan salah seorang Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah (2015-2020). Namanya mencuat pada Agustus 2023 lalu, akibat perseteruannya dengan Pimpinan Pondok Pesantren Al-Zaytun, Panji Gumilang. (Republika, 2023).
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



