Amboina

Stunting di Maluku Masih 28,4 Persen, Penelitian Soroti Potensi Intervensi Nutrisi Khusus

potretmaluku.id – Malnutrisi pada anak masih menjadi salah satu tantangan pembangunan kesehatan di Indonesia yang memerlukan perhatian serius.

Berdasarkan hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, angka stunting di Maluku masih mencapai 28,4 persen.

Karena itu, pencegahan stunting dan malnutrisi pada anak dinilai perlu terus menjadi perhatian berbagai pihak agar upaya mempersiapkan Generasi Emas Indonesia 2045 tidak terhambat.

Selain menghambat pertumbuhan, kondisi seperti stunting, wasting, dan underweight membuat anak lebih rentan mengalami berbagai penyakit infeksi.

Kondisi tersebut juga memerlukan biaya pengobatan yang besar dan dapat memengaruhi kualitas hidup anak dalam jangka panjang.

Dalam keterangan tertulis yang diterima, disebutkan bahwa apabila seorang anak telah terindikasi mengalami masalah gizi atau malnutrisi, langkah utama yang perlu dilakukan adalah berkonsultasi dengan dokter spesialis anak.

Konsultasi diperlukan untuk mengevaluasi tumbuh kembang anak sekaligus mengetahui kemungkinan adanya penyakit penyerta.

Penanganan yang tepat juga dinilai perlu segera diberikan karena dampak masalah gizi masih dapat diperbaiki dan dikejar.

Salah satu upaya yang disebutkan adalah pemberian solusi nutrisi berupa Pangan Olahan untuk Keperluan Medis Khusus (PKMK) atau Nutrient-Dense Formula (NDF).

Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa intervensi PKMK berpotensi membantu menurunkan prevalensi stunting, wasting atau berat badan rendah dibanding tinggi badan, serta underweight atau berat badan rendah dibanding usia.

Hasil penelitian berjudul A Nutrient-Dense Formula in Undernourished Children in Indonesia: A Cost-Effective Strategy dipresentasikan oleh Associate Professor Muh. Akbar Bahar, Ph.D., Ketua Pharmacoepidemiology Research Group (PharmaEpid-RG) Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin.

Penelitian tersebut dipaparkan dalam ajang International Society for Pharmacoeconomics and Outcomes Research (ISPOR) Europe 2025 di Glasgow, Skotlandia.

“Penelitian ini mengevaluasi dampak kesehatan dan ekonomi dari pemberian PKMK atau NDF kepada anak-anak Indonesia yang mengalami masalah gizi,” kata Muh. Akbar Bahar.

Menurut dia, hasil analisis menunjukkan intervensi nutrisi tersebut berpotensi menurunkan prevalensi stunting sebesar 34,5 persen, wasting sebesar 72,7 persen, dan underweight sebesar 51,7 persen.

“Jika diterapkan secara luas, dampaknya diperkirakan dapat mencegah sekitar 1,6 juta kasus stunting, 1,2 juta kasus wasting, dan 1,9 juta kasus underweight pada anak Indonesia,” ujarnya.

Penelitian itu juga menunjukkan bahwa perbaikan nutrisi berpotensi menurunkan berbagai penyakit infeksi yang sering dialami anak dengan gizi kurang.

Model yang dikembangkan memperkirakan penurunan kasus tuberkulosis (TB) sebesar 47,2 persen dan pneumonia sebesar 44,7 persen.

Angka tersebut setara dengan pencegahan sekitar 1,2 juta kasus TB dan satu juta kasus pneumonia.

Selain itu, kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan diare diperkirakan dapat berkurang masing-masing hingga 2,6 juta dan dua juta kasus pada skenario utama penelitian.

Muh. Akbar Bahar mengatakan temuan tersebut menunjukkan bahwa kebijakan nutrisi tidak seharusnya dipandang semata sebagai program bantuan pangan.

“Ketika seorang anak mendapatkan nutrisi yang memadai, manfaat yang dihasilkan jauh melampaui peningkatan berat badan atau tinggi badan,” ujarnya.

“Risiko infeksi menurun, kebutuhan berobat berkurang, dan kualitas hidup anak menjadi lebih baik.”

“Karena itu, intervensi nutrisi perlu dipandang sebagai investasi kesehatan masyarakat yang menghasilkan manfaat kesehatan dan ekonomi secara bersamaan,” lanjutnya.

Dari sisi ekonomi, penelitian tersebut memperkirakan bahwa berkurangnya kasus penyakit dapat menghasilkan penghematan biaya pengobatan hingga Rp2,46 triliun untuk tuberkulosis.

Penghematan biaya juga diperkirakan mencapai Rp3,88 triliun untuk pneumonia, Rp2,40 triliun untuk ISPA, dan Rp3,38 triliun untuk diare.

Analisis ekonomi kesehatan menunjukkan bahwa intervensi tersebut memberikan manfaat kesehatan yang besar dengan biaya yang relatif rendah.

Nilainya disebut mencapai tujuh kali lipat dibandingkan ambang batas efektivitas biaya yang digunakan di Indonesia. Founder dan Chairman Health Collaborative Center (HCC), dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FSRPH, menyambut positif hasil penelitian tersebut.

“Penelitian ini menunjukkan bahwa intervensi nutrisi yang tepat tidak hanya berpotensi mencegah memburuknya dampak kesehatan akibat malnutrisi, tetapi juga dapat mengurangi kebutuhan biaya pengobatan di masa depan,” kata Ray.

Menurut dia, bukti tersebut penting untuk mendukung pengambilan kebijakan yang lebih berbasis data dan berorientasi pada manfaat jangka panjang bagi anak-anak Indonesia.

Ray menegaskan bahwa penggunaan PKMK untuk anak stunting dan malnutrisi harus sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Penggunaannya juga harus didukung bukti klinis dan ekonomis guna memastikan pemberian intervensi gizi yang sesuai dengan kebutuhan anak-anak Indonesia.

Ia menambahkan bahwa inovasi solusi nutrisi untuk masalah gizi anak memberikan harapan baru dalam upaya mengatasi stunting di Indonesia.

“Kita juga patut berbangga karena memiliki produk PKMK yang diproduksi di dalam negeri yaitu SGM Eksplor Gain Optigrow,” ujarnya.

Produk tersebut, kata Ray, dirancang untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi anak yang berisiko gagal tumbuh, mengalami gizi kurang, maupun gizi buruk.

Menurut dia, SGM Eksplor Gain Optigrow merupakan satu-satunya PKMK 1 kkal/ml yang terbukti klinis menurunkan angka stunting hingga 34,5 persen.

Produk tersebut juga disebut dapat menghemat biaya terapi hingga tujuh kali lipat dengan proporsi TKDN tertinggi mencapai 37,34 persen.

Peringatan Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni, menurut Ray, menjadi momentum untuk merealisasikan keadilan sosial dan kemanusiaan dengan memastikan setiap anak Indonesia mendapatkan hak gizi yang merata.

“Pemenuhan gizi yang optimal merupakan fondasi untuk mencetak generasi penerus bangsa yang cerdas, sehat, dan mampu bersaing menyongsong Indonesia Emas,” kata Ray.

“Oleh karena itu, hadirnya inovasi solusi nutrisi PKMK seperti SGM Eksplor Gain Optigrow diharapkan dapat mendukung pemerintah dalam pemenuhan gizi anak Indonesia untuk mewujudkan Generasi Emas 2045 Bebas Stunting.”(TIA)


Penulis :
Editor :

Berita Serupa

Back to top button