Menag: Natal Nasional 2025 Tunjukkan Keberagamaan yang Empatik
potretmaluku.id – Menteri Agama Nasaruddin Umar menilai Perayaan Natal Nasional 2025 menunjukkan wajah keberagamaan yang matang dan berempati.
Perayaan yang digelar secara sederhana itu dinilai mampu menghadirkan dampak sosial yang luas dan dirasakan lintas kelompok di tengah situasi bangsa yang masih menghadapi berbagai tantangan.
Usai Seminar Natal Nasional 2025 di Jakarta, Sabtu (3/1/2026), Nasaruddin mengatakan kesederhanaan justru memperkuat pesan kebersamaan dan kepekaan sosial.
Menurut dia, Natal tahun ini tidak bisa dipandang sebagai perayaan kecil karena nilai dan dampaknya bersifat universal.
“Natal tahun ini jangan dipahami sebagai perayaan yang kecil. Justru sebaliknya, dampaknya sangat besar, luas, dan universal. Nilainya bisa dirasakan lintas agama, lintas etnik, dan lintas daerah,” ujar Nasaruddin.
Ia mengapresiasi keputusan panitia yang tidak memusatkan perayaan secara besar-besaran di satu lokasi. Pilihan format sederhana tersebut dinilai mencerminkan kedewasaan beragama sekaligus kepedulian terhadap kondisi sosial, termasuk masyarakat yang tengah terdampak bencana.
“Saya melihat ini sebagai perayaan yang sangat Indonesia. Ada empati, ada kepedulian, dan ada kesadaran bahwa di tengah perayaan, kita tetap harus memperhatikan saudara-saudara kita yang sedang mengalami kesulitan,” kata Nasaruddin.
Nasaruddin juga menyoroti tema Natal Nasional 2025, Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga, yang dinilainya relevan tidak hanya bagi umat Kristiani, tetapi juga bagi seluruh masyarakat. Menurut dia, keluarga merupakan fondasi utama pendidikan dan pembentukan karakter manusia.
“Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak manusia. Jika keluarga itu baik dan utuh, maka pendidikan di masyarakat dan sekolah hanya menjadi pelengkap. Inti pendidikan sesungguhnya ada di keluarga,” ujarnya.
Ia menilai tantangan yang dihadapi keluarga saat ini semakin kompleks, mulai dari persoalan ekonomi, relasi antaranggota keluarga, hingga tekanan sosial. Karena itu, rangkaian seminar dan diskusi dalam Natal Nasional dinilai penting sebagai ruang refleksi bersama lintas agama.
Nasaruddin berharap gagasan dan rekomendasi yang lahir dari Seminar Natal Nasional dapat dikembangkan lebih lanjut, bahkan menjadi rujukan dalam diskursus yang lebih luas tentang penguatan ketahanan keluarga.
“Isu keluarga ini menyentuh kita semua dan relevan untuk dibicarakan di tingkat nasional maupun internasional,” katanya.
Sementara itu, Ketua Panitia Natal Nasional 2025 Maruarar Sirait mengatakan tema Natal tahun ini lahir dari keprihatinan terhadap berbagai persoalan yang dihadapi keluarga Indonesia, seperti tekanan ekonomi, lemahnya komunikasi keluarga, hingga dampak sosial narkoba dan dunia digital.
“Pesan utama Natal Nasional ini adalah penyelamatan dan penguatan keluarga. Keluarga yang saling menopang adalah fondasi utama bangsa,” ujar Maruarar.
Ia menjelaskan arahan Presiden agar perayaan Natal digelar secara sederhana, berdampak, dan terbuka menjadi pedoman utama panitia.
Perayaan puncak Natal Nasional 2025 diikuti sekitar 3.600 peserta dengan prioritas bagi hamba Tuhan, pengurus gereja, anak yatim piatu, anak Sekolah Minggu, guru agama, serta penyandang disabilitas.
Kesederhanaan juga diwujudkan melalui pelibatan UMKM dalam penyediaan konsumsi, penggunaan produk lokal sebagai ornamen Natal, serta keterlibatan seniman nasional dan daerah dari berbagai wilayah.
Selain itu, rangkaian Natal Nasional 2025 juga diisi dengan berbagai aksi sosial di sejumlah daerah, seperti Papua, Sumatra, Kalimantan Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
“Kami berusaha agar Natal ini benar-benar berdampak bagi seluruh rakyat Indonesia. Perbedaan agama, suku, dan latar belakang justru menjadi kekuatan bangsa,” kata Maruarar.(JAY)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



