AmboinaMalukuNasional

Merayakan Hari Kemerdekaan Ditengah Keterisolasian Masyarakat Tanjung Sial

 

Oleh : Yunus Umagap (Ketua Umum Himpunan Pemuda Mahasiswa Tanjung Sial)

potretmaluku.id – Kemerdekaan Indonesia, sebuah peristiwa sejarah mahapenting dan mahadahsyat bagi sebuah bangsa yang pernah ditindas di bawah sistem kolonialisme yang serakah dan zalim.

Bung Karno, sang proklamator Negara Republik Indonesia (NKRI) pernah berkata, kemerdekaan dari penjajahan yang kita peringati setiap tanggal 17 agustus ini belum merupakan hasil dari perjuangan. Justru awal yang dilakukan untuk mewujudkan perjuangan yang sejati.

“Kemerdekaan” adalah satu kata yang penuh makna bagi setiap bangsa. Bebas dari penjajahan kolonialisme dan imperialisme dan membentuk sebuah negara baru yang merdeka. Delapan puluh tahun hari ini Indonesia memperingati hari kemerdekaan, membebaskan diri dari penjajahan asing. Tentunya bebas dari penjajahan sangatlah penting. Itu adalah penegasan bahwa kita sebagai manusia merdeka sama sperti bangsa lainnya di belahan dunia.

Artinya kita bebas menentukan nasib kita sendiri, tak ada manusia yang berhak yang mengatur dan menentukan nasib kita. Bahkan di dalam proklamasi kemerdekaan ada pernyataan bahwa kita membentuk suatu negara, di mana setiap warganya akan dilindungi akan hak asasinya, serta kedudukannya dengan siapapun sebagai warga negara. Namun, kemerdekaan yang dirayakan di dalam bentuk acara seremonial dan kemeriahan tidak sepenuhnya dirasakan seluruh masyarakat di Indonesia.

Inilah yang dirasakan oleh masyarakat enam (6) Dusun yang berada di Semenanjung Tanjung Sial. Keenam Dusun ini berada di wilayah pesisir pulau seram, yang selama ini terisolir dari semua aspek pembagunan, baik akses jalan dan jembatan, pendidikan, kesehatan maupun infrastruktur dari negara. Keenam Dusun ini adalah, Dusun Waeputih, Waelapia, Lauma, Kasawari, Tihulesi dan Wayasel. Negera seolah-olah lupa dan menutup mata pada warga negaranya sendiri.

Bagaimana tidak, status enam dusun tapal batas di wilayah semenanjung Tanjung Sial itu sampai saat ini masih tidak jelas. Padahal, sudah puluhan tahun masyarakat melakukan berbagai upaya ke pemerintah guna mendapatkan kepastian hukum atas status wilayahnya, apakah berada pada Kabupaten SBB atau masih tetap di Kabupaten Maluku Tengah.

Selain itu, masyarakat juga sudah puluhan tahun manyampaikan keluhannya terkait kue pembagunan yang selama ini tidak pernah dibagikan kepada masyarakat di Semenanjung Tanjung Sial agar tidak terisolasi lagi, namun tidak ditanggapi secara serius oleh kedua pemerintah, baik pemerintah SBB mau Maluku Tengah.

Saat ini boleh saja Indonesia merayakan HUT kemerdekaan kenegaraan, namun sampai saat ini enam (6) dusun yang di Semenanjung Tanjung Sial belum merasakan kemerdekaan, baik pada aspek pembangunan, terutama jalan dan jembatan, pelayanan kesehatan yang sampai saat ini belum dirasakan sejak Indonesia Merdeka.

Sebagai generasi Semenanjung Tanjung Sial ingin menyampaikan kepada Negara lewat Pemerintah Kabupaten SBB dan Maluku Tengah bahwa melalui momentum HUT Kemerdekaan ini, persoalan tapal batas yang berada di wilayah semenanjung Tanjung Sial dapat segera diselesaikan. Sebab masyarakat butuh kepastian terhadap status wilayahnya, baik secara hukum maupun secara administratif, agar kemudian bisa merasakan kue pembangunan dari pemerintah. (**)


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Berita Serupa

Back to top button