“Stems of Cloves & Nutmegs: is a collection of Moluccan ethnography that evokes a sense of identity” – Dr. Abdul Manaf Tubaka, Lecture at the Islamic State Institute/IAIN Ambon (now Abdul Muthalib Sangadji State Islamic University)
Malam turun pelan-pelan di sebuah kampung pesisir Maluku. Ombak datang dan pergi seperti napas panjang dari tubuh yang lama menyimpan rindu. Di kejauhan, seorang perempuan menyanyikan lagu pengantar tidur, suara lirihnya bersatu dengan desir angin, dan aroma kayu basah dari dapur kayu yang masih berasap. Di tempat-tempat seperti inilah puisi-puisi itu dilahirkan.
Stems of Cloves & Nutmegs bukan sekadar antologi. Ia adalah jalan pulang bagi bahasa yang pernah berjalan terlalu jauh. Dalam larik-larik yang ditulis oleh dua belas penyair muda Maluku, kita menemukan kembali apa arti mencintai tempat yang membentuk tubuh dan suara kita. Cinta yang tidak selalu manis, tapi selalu jujur. Kadang gemetar, kadang lantang. Seperti ombak itu.
Para penyair itu datang dari Aru, Babar, Seram, pulau-pulau yang di peta tampak kecil, tapi dalam puisi mereka tumbuh sebesar dunia. Mereka menulis dalam bahasa Indonesia, dalam Melayu Ambon, dan kadang dalam diam yang panjang.
Di sana, dalam ruang-ruang antara kata, mengalir suara yang lebih tua dari sejarah tertulis: suara kampung, suara batu, suara pohon cengkih yang pernah ditebang Belanda.
Ada yang bicara tentang nelayan dan badai, tentang anak-anak yang bermain di pantai, tentang ingatan pada suara ibu. Ada pula yang menulis tentang ketidakadilan, tentang luka yang tak terlihat tapi diwariskan.
Namun benang merah yang menautkan semuanya adalah satu hal: rasa memiliki terhadap Maluku, dengan segala gemuruh dan keheningannya.
Bahasa menjadi tokoh utama dalam buku ini. Bukan bahasa yang kaku dan formal, tapi bahasa yang tahu cara bernafas di antara jala ikan dan doa nenek-nenek. Bahasa yang tidak hanya menyampaikan pikiran, tapi juga mewariskan ingatan.
Basudara, kata yang terus diulang, bukan cuma berarti “saudara”. Ia adalah perasaan bahwa kita tidak sendiri, bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari diri: tanah, laut, dan mereka yang hidup bersama kita di dalamnya.
Yang membuat buku ini berbeda adalah bagaimana ia tak berhenti di halaman kertas. Setiap puisi membawa serta pintu-pintu menuju dunia lain: melalui kode QR, pembaca bisa menyaksikan versi visual dari karya itu, video yang direkam di desa, suara laut yang asli, musik yang lahir dari tanah, bahkan tarian yang menjelmakan bait menjadi tubuh. Puisi, dalam buku ini, tak hanya dibaca. Ia dilihat, didengar, dan dialami.
Ada yang mencatat bahwa literasi adalah tentang kemampuan membaca. Tapi mungkin, literasi juga tentang kemampuan mendengarkan. Mendengarkan suara yang selama ini tenggelam.
Mendengarkan tanah yang pernah dilupakan. Dalam konteks itu, Stems of Cloves & Nutmegs adalah bentuk literasi yang paling lembut sekaligus paling kuat: ia tidak berteriak, tapi ia menyentuh.
Judul buku ini berasal dari sajak Emma Hanubun, “Di Timur Rumahku”, yang menyebut ranting pala dan batang cengkih. Pilihan yang tak hanya puitis, tapi juga simbolik.
Rempah-rempah itu dulu membawa Maluku ke peta dunia dengan cara yang penuh luka. Kini, lewat puisi, batang dan ranting itu menjadi metafora akan akar yang tumbuh, harapan yang bersemi, dan suara yang menemukan jalannya kembali ke rumah.
Buku ini lahir dari kerja kolektif. Para penyair, seniman visual, penerjemah, dan relawan bekerja sama dalam semangat lain bantu lain.
Sebuah cara bekerja yang mungkin terdengar asing di tengah dunia sastra yang sering terlalu individual. Tapi dari situlah kekuatan buku ini: ia tidak dibangun oleh satu suara, melainkan oleh paduan suara yang saling mengangkat.
Dan seperti laut yang tidak pernah diam, puisi-puisi ini juga tidak pernah benar-benar selesai. Mereka akan terus hidup dalam pembacaan yang baru, dalam video yang ditonton anak muda, dalam baris yang dibisikkan diam-diam oleh seseorang yang jauh dari kampung.
Karena seperti yang dikatakan seorang penyair, puisi yang baik bukanlah yang selesai ditulis, tapi yang tak pernah selesai dirasakan.(Embong Salampessy)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



