PendapatSerba-serbi Ramadan

Es Pisang Ijo Tante Ijah

SERBA-SERBI RAMADAN

Ada kenangan yang selalu membekas tentang kisah masa kecil saya di kota kelahiran, Masohi, Kabupaten Maluku Tengah. Kebetulan rumah kami saat itu berdekatan dengan beberapa keluarga bermarga Mony, Ipaenin, Tuharea dan Kelian.

Hidup berdampingan dengan mereka sudah berlangsung bahkan sebelum saya lahir. Karenanya, anak-anak mereka adalah teman sepermainan saya di masa kecil. Ahmad, Ucheng, Idrus, Muna, Nurbaya, Muhamis adalah teman-teman yang sudah menjadi bagian dari kehidupan masa kecil di antara Onny, Cello, Nus, John, Pieter, Ona, dan lain-lain.

Bulan Ramadan, menjadi waktu yang selalu dinanti-nantikan oleh kami, selain bulan Desember. Walaupun masa kecil saya bersekolah di SD Kristen Masohi, sekolah kami diliburkan selama seminggu di “kepala puasa” (awal Ramadan) dan seminggu menjelang Idul Fitri.

Waktu libur ini digunakan oleh kami anak-anak kompleks “pohon Asam Jawa” untuk bermain sepuas-puasnya. Kompleks kami disebut demikian karena di sepanjang jalan tempat tinggal kami ada sekitar 10 pohon Asam Jawa besar yang tumbuh berjejeran. Rimbunnya pohon Asam Jawa itu bahkan sampai menutupi jalan raya, sehingga menjadi “arena” bermain bagi kami, baik di halaman rumah maupun di jalan raya.

Maklumlah pada saat itu, kendaraan bermotor di kota Masohi masih sedikit sekali. Segala permainan kami coba lakukan untuk menutupi waktu liburan. Mutel (kelereng) gawang mini (sepak bola), Asen, lompat tali, enggo lari dan lain-lain adalah permainan yang sering kami lakukan.

Selain bermain, saat Ramadan, waktu yang juga kami nantikan adalah sahur dan buka puasa. Sahur, sekalipun dini hari, menjadi kebiasaan kami untuk membangunkan mereka yang berpuasa, juga warga lainnya.

Berbekal kaleng yang diisi dengan batu-batu kerikil, kami berkeliling di sekitar pemukiman sambil meneriakan, “Sahur… sahur”. Aktifitas ini tak pernah dilarang oleh orang tua kami, sebab mereka pun tidak merasa terganggu dengan suara kami. Bahkan sesekali orang tua kami menyiapkan makanan bagi mereka yang berpuasa untuk memulai hari itu.

Setelah sahur, kami kembali tidur sambil menanti fajar, untuk melanjutkan aktifitas kami sebagai anak-anak, bermain. Seharian kami menikmati permainan, dengan tetap menghormati teman- teman yang berpuasa. Tidak ada rasa benci, tidak ada yang saling mengejek. Kalau kami makan atau minum, itu pun dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

Tibalah waktu yang dinantikan saat adzan magrib dikumandangkan dari masjid yang tak jauh dari tempat tinggal kami. Kami hafal betul kalau Adzan sudah berkumandang maka tibalah saatnya untuk buka puasa.

Keletihan, dahaga, rasa lapar seakan sirna. Apalagi kalau Tante Ijah (ibunya Nurbaya, Ahmad, Ucheng dan Idrus) menyajikan Es Pisang Ijo buatan tanggannya kepada kami dalam mangkuk-mangkuk yang lumayan besar untuk ukuran perut anak kecil. Jujur saja, kalau kenikmatan es pisang ijo Tante Ijah itu melebihi rasa es pisang ijo lain yang pernah saya nikmati. Apalagi ditambah dengan ‘asidah’ buatan tangannya, seakan dunia hanya menjadi milik kami.

Aktifitas ini bukan cuma terjadi sekali, tetapi setiap hari sepanjang bulan Ramadan. Nikmatnya Es Pisang Ijo dan Asidah, sama nikmatnya dengan pertemanan yang kami bangun tanpa memandang perbedaan di antara kami. Ada kepingan rasa yang hilang, bila kami tidak bisa bermain bersama. Bila masa liburan selesai, kami masih sempat untuk bermain walaupun hanya di sore hari menjelang berbuka.

Masa kecil ini, membentuk kami untuk memahami apa arti keragaman di tengah perbedaan. Orang tua kami tidak pernah melarang untuk membangun hubungan pertemanan dengan teman-teman kami yang berbeda. Kami tulus dalam pertemanan bahkan seperti saudara sendiri.

Sayangnya, kenyataan yang kita hadapi saat ini, agama-agama seakan hidup dalam prasangka negatif satu dengan yang lain, saling curiga, saling menghina, atas nama Tuhan dan agama cenderung melakukan kekerasan. Saling mengklaim bahwa dirinya yang paling benar dan yang lain tidak, dan sebagainya.

Parade agama-agama saat ini, seakan menunjukkan wajah agama yang kesetanan, jauh dari perdamaian. Peradaban manusia saat ini, sangat membutuhkan kembali hadirnya agama menjunjung tinggi moralitas dan kemanusiaan. Agama yang sanggup menggairahkan inisiatif umat dalam pemberdayaan demi terwujudnya kehidupan masyarakat yang beradab dan sejahtera; suatu masyarakat yang berpondasikan penghormatan akan HAM maupun demokrasi.

Paradigma beragama bukan hanya ditinjau dalam aspek dogmatis semata, melainkan juga dalam paradigma moral. Agama dengan paradigma moral yaitu agama yang memiliki visi memanusiakan manusia seutuhnya.

Dalam hubungan dengan itulah peradaban manusia dewasa ini mendambakan agama yang berkemampuan memberdayakan keutuhan manusia. Harus disadari bahwa ggama secara fungsional harus mampu menjembatani jurang ritual dengan moral-spiritual warganya. Agama yang secara aktif menjadi lokomotif dalam menentukan arah peradaban manusia, pengembangan disiplin ilmu untuk percepatan diakhirinya krisis kemanusiaan.

Agama harus menjadi berkat bagi masyarakatnya. Cita-cita itu akan terwujud jika saja agama secara internal dapat merekonstruksi primordialitasnya yang berpotensi memicu lahirnya konflik horisontal dalam kehidupan masyarakat. Agama yang secara terus menerus dan ikhlas belajar dari sejarah peradaban manusia yang penuh dengan lumuran darah. Cerdas dan arif dengan kenyataan bahwa besarnya saham agama dalam memicu dan melestarikan pertikaian.

Sepertinya, sikap beragama kita saat ini harus mencontohi perilaku anak-anak. Jujur, tanpa curiga, mau menerima dan bersahabat dengan orang lain, bersahaja, bertumbuh bersama dalam perbedaan, saling membantu untuk mencapai tujuan bersama, bebas dari kepentingan pribadi, menerima keragaman, dan sebagainya. Kalaupun ada konflik, tidak pernah berlarut-larut dan menjadi dendam, karena saat itu juga saling ‘baku bae’ satu dengan yang lain.

Saat ini, Ramadan tiba lagi. Penantiannya tidak lagi seperti masih kanak-kanak. Yang dinanti saat ini adalah siraman-siraman rohani yang menyejukkan kalbu, untuk hidup yang lebih baik dan bermartabat. Kerinduan akan siraman rohani itu bagaikan dahaga yang tertahan selama seharian, tetapi kemudian terpuaskan ketika menikmati semangkok es pisang ijo Tante Ijah. Marhaban Ya Ramadan, sambut bulan penuh hikmah dengan hati dan jiwa yang bersih.

Screen Shot 2021 04 14 at 16.41.50 copy

Penulis: Agus Lopuhaa, adalah dosen pada Politenik Negeri Ambon dan Dewan Redaksi potretmaluku.id.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Berita Serupa

Back to top button