Darah dan Duka di Negeri Raja-Raja: Mengurai Benang Kusut Konflik Maluku

Oleh: M. Azis Tunny Penulis (Mantan wartawan The Jakarta Post dan Koordinator Maluku Media Centre /MMC)
Fragmen konflik antar warga kembali mengoyak rasa damai dan persaudaraan di Maluku. Tiga episode konflik pecah di tiga wilayah, kurang dari dua puluh hari.
Seolah ada mantra kutukan yang terus menghantui “Negeri Raja-Raja” ini, terjebak dalam siklus kekerasan yang diwariskan.
Apa yang membuat masyarakat Maluku begitu mudah tersulut? Apakah ini letupan dari trauma kolektif pasca-konflik komunal 1999-2002, atau kegagalan sistemik negara dalam mengelola kompleksitas sosial?
Dalam 20 hari terakhir, konflik pertama pecah di Kepulauan Kei, Kabupaten Maluku Tenggara, 16 Maret 2025. Akibat konflik itu, tercatat dua orang meninggal dunia. Sementara korban luka mencapai 16 orang, sembilan diantaranya anggota polisi.
Konflik kedua pecah di hari raya Idul Fitri, 31 Maret 2025, antara warga Tial dan Tulehu di Pulau Ambon, Kabupaten Maluku Tengah. Bentrok ini mengakibatkan satu warga meninggal dunia, dan dua warga mengalami luka serius. Beruntung aparat keamanan cepat memblokade wilayah perbatasan sehingga menggagalkan aksi saling serang antar kampung.
Belum reda kepedihan, kabar duka kembali datang dari Pulau Seram, 3 April 2025. Konflik ketiga ini terjadi antara warga Sawai dan Rumaolat di Kecamatan Seram Utara, Kabupaten Maluku Tengah. Sejumlah rumah dibakar, dan seorang anggota polisi tewas tertembak di kepala.
Melihat fragmen konflik yang terjadi berulang-ulang, muncul pertanyaan besar mengapa orang Maluku rentan sekali berkonflik? Maluku seperti bara dalam sekam. Sedikit gesekan, langsung menyala.
Maluku menyimpan memori kelam konflik horizontal 1999–2002, dipicu oleh ketegangan agama dan etnis. Meski perdamaian resmi dideklarasikan pada 2002 melalui Perjanjian Malino II, rekonsiliasi sepertinya tidak sepenuhnya tuntas. Dendam dan ketidakpercayaan antarkelompok masih mengendap, sementara senjata ilegal pasca-konflik masih mudah diakses.
Saya teringat pernyataan peneliti senior Netherlands Institute for Southeast Asian and Caribbean Studies (KITLV) Gerry van Klinken, saat menghadiri acara refleksi 10 tahun konflik Maluku pada 2009 lalu di Ambon.
Saat itu dia mengatakan, orang Maluku saat ini sudah bisa menerima perbedaan dan mau berdamai di ruang-ruang publik pasca dihantam tragedi kemanusiaan yang mengusung simbol-simbol agama. Rekonsiliasi yang terbangun alamiah ini sangat dia apresiasi.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi