Kemenperin Dorong IKM Olahan Kelapa Maluku Tenggara Naik Kelas
potretmaluku.id – Pelaku industri kecil dan menengah (IKM) olahan kelapa di Kabupaten Maluku Tenggara, Maluku, didorong memperkuat kapasitas produksi, kualitas, standardisasi, dan legalitas usaha agar mampu mengembangkan produk bernilai tambah dari bahan baku lokal.
Dorongan tersebut disampaikan Kementerian Perindustrian melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka dalam pendampingan teknis produksi bagi IKM olahan kelapa di Langgur pada 22–25 September 2026.
Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka Kementerian Perindustrian, Yedi Sabaryadi, mengatakan penguatan tidak cukup hanya pada kemampuan produksi. Pelaku usaha juga perlu mendapat dukungan teknologi, akses pembiayaan, legalitas, serta inovasi.
“Namun demikian, kita juga menyadari bahwa IKM masih menghadapi beberapa tantangan, antara lain keterbatasan teknologi, kapasitas produksi, kualitas, dan standardisasi produk,” kata Yedi saat membuka pendampingan di Aurelia Hotel Kimson, Langgur, Selasa, 22 September 2026.
Menurut Yedi, berbagai kendala tersebut berpengaruh terhadap kemampuan IKM meningkatkan produksi dan memperluas skala usaha. Karena itu, aspek legalitas usaha, pembiayaan, dan inovasi juga perlu menjadi bagian dari pengembangan bisnis.
Pengolahan kelapa menjadi produk turunan, kata dia, dapat meningkatkan nilai ekonomi komoditas sekaligus memperpanjang rantai usaha. Rantai tersebut mencakup penyediaan bahan baku, proses produksi, pengemasan, hingga pemasaran.
Potensi itu dinilai penting bagi Maluku Tenggara yang memiliki ketersediaan bahan baku kelapa. Dengan penguatan kapasitas, kelapa tidak hanya dipasarkan sebagai bahan mentah, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk olahan yang memiliki standar dan nilai jual lebih tinggi.
Yedi mengatakan penguatan IKM juga memiliki posisi penting dalam struktur industri nasional. Berdasarkan data yang disampaikannya, terdapat sekitar 4,4 juta unit IKM atau 99,78 persen dari total unit usaha industri manufaktur nasional.
“Industri kecil menengah memiliki peran yang sangat strategis dalam perekonomian nasional,” ujarnya.
Menurut dia, IKM berkontribusi terhadap penciptaan lapangan kerja, pemerataan kesempatan berusaha, serta penggerak ekonomi di berbagai daerah.
Yedi menjelaskan IKM merupakan bagian dari usaha mikro, kecil, dan menengah, terutama usaha yang telah menjalankan kegiatan produksi.
Pendampingan di Maluku Tenggara diarahkan untuk membantu pelaku usaha memperbaiki proses produksi, menjaga mutu dan konsistensi produk, serta meningkatkan kapasitas usaha.
Penguatan tersebut diharapkan membuat bahan baku kelapa lokal berkembang menjadi produk olahan yang memiliki kualitas, legalitas, standar, dan nilai ekonomi lebih tinggi.(TIA)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis :
Editor :


