Bakso Ikan Jadi Alternatif Protein MBG, Maluku Tenggara Bidik Nelayan Kecil
potretmaluku.id – Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara (Malra) mendorong hasil tangkapan nelayan kecil masuk ke rantai pasok pangan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Salah satu produk yang disiapkan adalah bakso ikan sebagai alternatif sumber protein.
Upaya ini diarahkan untuk membuka pasar baru bagi nelayan sekaligus mengembangkan usaha mikro, kecil, dan menengah pengolahan hasil perikanan.
Wakil Bupati Maluku Tenggara Charlos Viali Rahantoknam mengatakan pengolahan ikan menjadi produk bernilai tambah dapat mempertemukan kebutuhan gizi anak dengan kepentingan ekonomi masyarakat pesisir.
“Selain memenuhi gizi anak, juga menambah segmentasi pasar hasil tangkapan nelayan kecil, membangkitkan UMKM pengolahan ikan, serta meningkatkan pendapatan keluarga,” kata Viali saat membuka Pelatihan Pembuatan Bakso Ikan sebagai Protein Alternatif Program MBG di Aula Kantor Bupati Maluku Tenggara, Selasa, 8 September 2026.
Pelatihan tersebut digelar pemerintah kabupaten bekerja sama dengan The Global Environment Facility (GEF) 6 Coastal Fisheries Initiative (CFI) Indonesia.
Menurut Viali, perikanan memiliki peran penting dalam perekonomian Maluku Tenggara. Dalam lima tahun terakhir, sektor tersebut menyumbang 22,20 persen terhadap perekonomian daerah.
Namun kontribusi ekonomi itu belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kesejahteraan nelayan.
Berdasarkan Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) yang disampaikan pemerintah kabupaten, terdapat 1.536 keluarga nelayan atau 1.863 orang yang masih berada dalam kategori miskin. Sebanyak 835 keluarga atau 1.038 orang di antaranya masuk kategori miskin ekstrem.
Viali mengatakan persoalan tersebut membutuhkan kebijakan yang tidak berhenti pada pemberian bantuan. Pemerintah, kata dia, perlu menciptakan sumber pendapatan baru yang dapat memperkuat ekonomi masyarakat pesisir.
“Kemiskinan, stunting, dan pengangguran harus kita atasi secara kolaboratif dan inovatif,” ujarnya.
Salah satu pendekatan yang didorong adalah mengubah ikan yang selama ini dijual dalam kondisi segar menjadi produk olahan. Dengan cara itu, hasil tangkapan nelayan memiliki nilai tambah dan dapat masuk ke pasar penyediaan makanan bergizi.
Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara juga mendorong Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) bermitra dengan kelompok pengolah hasil perikanan dan UMKM lokal.
Melalui kemitraan tersebut, ikan hasil tangkapan nelayan dapat diolah terlebih dahulu menjadi produk seperti bakso sebelum diserap untuk kebutuhan pangan dalam program MBG.
Peserta pelatihan mendapatkan keterampilan pengolahan ikan serta pengetahuan mengenai mutu, kebersihan, keamanan pangan, dan standar produk. Narasumber berasal dari Balai POM, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Maluku, Dinas Kesehatan, serta SPPG Kabupaten Maluku Tenggara.
Viali meminta peserta menjaga standar produk karena hasil olahan tersebut akan dikonsumsi anak-anak.
“Ikuti pelatihan ini sungguh-sungguh. Jaga kualitas dan kebersihan. Ingat, ini untuk anak-anak kita,” katanya.
Ia juga mengatakan keterbatasan anggaran daerah membuat pemerintah perlu mencari pola kerja yang berbeda. Menurut dia, pemberdayaan masyarakat tidak bisa sepenuhnya mengandalkan APBD.
“Saat ini kita sedang efisiensi anggaran. APBD terbatas. Kita tidak bisa bekerja dengan cara lama. Kita harus kolaboratif dan menggandeng mitra,” ujarnya.
Viali menyebut kerja sama dengan GEF 6 CFI Indonesia sebagai salah satu bentuk kolaborasi tersebut.
Ia berharap pelatihan bakso ikan tidak berhenti sebagai kegiatan peningkatan keterampilan. Program itu diharapkan menjadi awal terbentuknya rantai usaha yang menghubungkan nelayan, kelompok pengolah, UMKM, dan SPPG.
Dengan demikian, ikan lokal tidak hanya dijual sebagai hasil tangkapan, tetapi juga dapat menjadi bahan pangan bernilai tambah sekaligus membuka peluang pendapatan baru bagi masyarakat pesisir.(TIA)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis :
Editor :



