Nostalgia dan Kritik Kebijakan Pusat: Bodewin Wattimena di Tengah Senior GMKI
potretmaluku.id – Hotel Golden Palace Ambon riuh oleh kehadiran delegasi tokoh lintas generasi pada Sabtu, 21 Februari 2026.
Di barisan kursi terdepan, Wali Kota Ambon Bodewin M. Wattimena tampak duduk bersama sejumlah figur yang pernah membidani arah gerak birokrasi dan politik di Bumi Raja-Raja.
Kehadiran delegasi Pemerintah Kota ini bukan sekadar seremoni, melainkan upaya menjahit kembali simpul-simpul intelektual dalam Pertemuan Raya Perkumpulan Senior Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Kota Ambon.
Bagi Bodewin, ruang pertemuan itu adalah laboratorium kepemimpinan. Ia tak segan menarik garis sejarah, mengingatkan hadirin bahwa sejak era reformasi, kemudi Kota Ambon kerap dipegang oleh mereka yang pernah digodok di kawah candradimuka GMKI.
“Ini membuktikan GMKI adalah organisasi kader yang konsisten menghasilkan motor penggerak bagi kemajuan bangsa,” ujarnya, memberikan penghormatan bagi para senior yang hadir.
Namun, suasana nostalgia itu seketika berubah menjadi refleksi tajam saat Bodewin memaparkan kondisi Maluku saat ini.
Ia menggunakan metafora yang getir: “percikan porselen yang jatuh dan pecah tersebar di mana-mana.”
Sebuah gambaran tentang tantangan geografis kepulauan yang hingga kini masih menjadi sandungan bagi efektivitas pembangunan.
Bodewin juga menyisipkan kritik halus namun tegas terhadap kebijakan pemerintah pusat. Menurutnya, keberpihakan pusat terhadap daerah kepulauan seperti Maluku masih terasa minim.
“Kita ada dalam situasi sulit. Mau bergerak sendiri pun terbatas dalam banyak hal. Tanpa kolaborasi, kita hanya akan menjemput kegagalan,” katanya, menekankan urgensi sinergi lintas elemen di tengah keterbatasan fiskal daerah.
Yang menarik, Pertemuan Raya ini tidak hanya bicara tentang lobi politik tinggi, tetapi juga menyentuh persoalan sehari-hari yang menjadi “momok” di Balai Kota: pengelolaan sampah.
Bodewin memberikan apresiasi khusus saat mengetahui para senior GMKI memasukkan isu lingkungan dalam agenda diskusi mereka.
Baginya, keterlibatan organisasi kader dalam memikirkan masalah taktis kota adalah bentuk nyata dukungan menuju visi Indonesia Emas 2045.
“Pemerintah mesti berterima kasih karena senior GMKI ikut memikirkan beban pemerintah. Mulai dari urusan generasi masa depan hingga soal sampah yang ada di depan mata kita hari ini,” imbuhnya.
Menutup orasinya, Bodewin mengajak para senior GMKI untuk tidak menjadi penonton di pinggir jalan pembangunan. Ia meminta topangan intelektual dan jaringan yang dimiliki para alumni untuk membantu Pemerintah Kota Ambon.
Di mata Bodewin, kapasitas besar yang dimiliki para senior GMKI adalah aset yang harus dipanggil pulang untuk memastikan Ambon bergerak ke arah yang lebih baik.(TIA)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



