Rekonfigurasi Demokrasi Lokal Dalam Pemilihan Kepala Daerah Melalui DPRD
Oleh : Hendriyani Sigmarlatu (Akademisi Ilmu Pemerintahan Fisip Unpatti)
Pendahuluan
Perdebatan mengenai mekanisme pemilihan kepala daerah di Indonesia kembali mengemuka dalam diskursus politik nasional. Wacana pemilihan kepala daerah melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) diposisikan sebagai alternatif atas berbagai persoalan yang muncul dalam pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada) secara langsung.
Persoalan tersebut antara lain tingginya biaya politik, konflik horizontal di masyarakat, politik uang, serta lemahnya efektivitas pemerintahan daerah pasca-pilkada.
Namun demikian, perdebatan ini kerap terjebak pada aspek prosedural semata, tanpa menyentuh akar persoalan demokrasi lokal di Indonesia.
Esai ini berargumen bahwa isu pemilihan kepala daerah melalui DPRD merupakan gejala dari krisis demokrasi yang lebih mendasar, khususnya kegagalan partai politik dalam menjalankan fungsi-fungsi dasarnya.
Oleh karena itu, perubahan mekanisme pemilihan tidak serta-merta menjawab persoalan demokrasi, selama tidak disertai pembenahan sistem kepartaian dan orientasi demokrasi pada kesejahteraan masyarakat.
Konteks Politik Kontemporer dan Munculnya Wacana Pemilihan melalui DPR. Pilkada langsung yang diterapkan pasca reformasi dimaksudkan sebagai perwujudan kedaulatan rakyat dan penguatan demokrasi lokal.
Dalam praktiknya, pilkada langsung justru menghadirkan paradoks demokrasi. Di satu sisi, partisipasi politik meningkat; namun di sisi lain, demokrasi elektoral menjadi mahal, rentan konflik, dan sarat transaksi politik.
Dalam konteks inilah wacana pemilihan kepala daerah melalui DPRD kembali dimunculkan. Pendekatan ini dianggap lebih efisien secara anggaran, mampu meredam konflik horizontal, serta memperkuat sistem perwakilan.
Akan tetapi, kemunculan wacana ini juga menandai kecenderungan negara untuk mencari solusi instan terhadap krisis demokrasi, tanpa melakukan evaluasi menyeluruh terhadap institusi-institusi demokrasi itu sendiri.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



