AmboinaInternasional

Kolaborasi Ambon-Darwin di Darwin Fusion 2025: Budaya, Ukulele, dan Hubungan Antarkomunitas

potretmaluku.id – Dalam sebuah langkah strategis memperkuat hubungan internasional berbasis budaya dan komunitas, musisi dari Ambon, Maluku, Nico Tulalessy menghadiri undangan Pemerintah Kota Darwin, Australia, sebagai salah satu pembicara utama dalam ajang Darwin Fusion 2025 International Conference and Trade.

Acara yang berlangsung sejak 22 hingga 23 Mei ini, menjadi ruang temu berbagai kota dan negara yang ingin menjalin atau memperdalam kerja sama, dan dalam kesempatan ini, Tulalessy membawakan presentasi berjudul: “Ambon – Darwin Sister City: Build Strong Collaboration through Culture and Knowledge Exchange for Sustainable Relationship.”

Namun, inti dari kolaborasi ini bukanlah sekadar hubungan administratif antar pemerintah, melainkan pada kekuatan nyata dari hubungan antarmasyarakat—hal yang justru menjadi sorotan utama Tulalessy dalam presentasinya.

Memaknai Ambon sebagai Kota Musik dan Pelestari Budaya

Di hadapan para delegasi internasional dari negara seperti Timor Leste, Jepang, Tiongkok, India, Vietnam, serta dua kota dari Indonesia yaitu Ambon dan Bali, Jumat, 23 Mei 2025, Nico Tulalessy memaparkan posisi Ambon sebagai Kota Musik Dunia versi UNESCO.

Ia menyoroti bagaimana keberadaan komunitas masyarakat lokal mendukung penuh misi tersebut, khususnya dalam upaya pelestarian warisan budaya musik ukulele, atau yang akrab disebut Jukulele di Maluku.

“Ukulele bukan hanya instrumen musik. Bagi masyarakat Maluku, khususnya di Ambon, alat musik ini telah menjadi simbol budaya yang mempererat persaudaraan lintas generasi dan lintas negara,” terangnya.

Dan salah satu bukti nyata kontribusi luar negeri dalam pelestarian budaya ini, kata Nico, adalah lahirnya Amboina Ukulele Kids Community (AUKC) pada tahun 2019.

Komunitas ini,anjut dia, hadir berkat dukungan warga Darwin yang menyumbangkan ukulele berkualitas tinggi kepada anak-anak dari keluarga kurang mampu di Ambon.

Ini bukan hanya donasi alat musik, tapi juga simbol dukungan dan perhatian yang membuahkan hasil luar biasa dalam mendorong anak-anak untuk mencintai budaya mereka.

Kolaborasi Warga Ambon dan Darwin Bangun Relasi Berkelanjutan

Dalam presentasinya, Tulalessy secara mendalam menekankan bahwa esensi dari kerja sama sister city bukan semata terletak pada hubungan antar pemerintah, melainkan pada koneksi antarkomunitas warga yang terus tumbuh secara alami dan penuh semangat saling bantu.

Contoh yang sangat bermakna adalah saat pandemi COVID-19 melanda. Kala itu, banyak warga Ambon mengalami kesulitan ekonomi dan kekurangan bahan pangan. Dalam situasi tersebut, bantuan datang bukan dari institusi resmi, melainkan dari warga Darwin bernama Mr. Bo dan Ms. Lindsey yang kerap mengunjungi Ambon.

“Mereka mengirimkan donasi beras yang disalurkan melalui Ambon Sailing Community (ASC). Inilah wujud nyata dari solidaritas antarkomunitas yang menjadi tujuan utama konsep sister city,” ungkap Nico.


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

1 2Next page

Berita Serupa

Back to top button