
Saya ingat, Iwan Tompo menjawab singkat, “Rusdin Tompo itu teman.”
Kami memang berteman di Facebook, di dunia maya. Dalam keseharian, saya tidak terlalu mengenal dekat beliau, selain melalui karya-karyanya.
Selama ini, saya hanya mendengar beliau bernyanyi melalui tape recorder atau melalui siaran radio. Saya sangat ingin melihatnya bernyanyi live di atas panggung.
Malam itu beliau tampil dalam balutan busana adat yang kental: songkok guru, jas tutup, dan lipa’ (sarung) sabbe’. Warna keemasan yang dikenakannya memancarkan aura kebintangannya.
Sayang, honornya belum bisa langsung dibayarkan karena terkait dengan pencairan anggaran. Penyelenggaraan KPID Award 2011 di pengujung tahun, rupanya berdampak pada pembayaran honorarium yang baru bisa diberikan pada awal tahun 2012.
Pembayaran ‘utang’ honor itu terasa mendesak dan penting lantaran ada kabar yang menyebutkan bahwa Iwan Tompo sedang terbaring sakit. Honorarium yang jumlahnya tidak seberapa itu diantarkan oleh staf KPID Sulawesi Selatan, Syukri Yanci, yang diterima langsung oleh Iwan Tompo di rumahnya.
Ketika ditemui, Iwan Tompo benar sedang sakit. Tepatnya, beliau dalam proses pemulihan. Menurut cerita Syukri Yanci, meski belum pulih sepenuhnya, Iwan Tompo begitu bersemangat menyambutnya.
Topik pembicaraan bukan berkisar tentang penyakit dan kondisi kesehatannya, tapi lebih didominasi seputar kegemaran Iwan Tompo. Apalagi, kalau bukan terkait dengan lagu-lagu Makassar.
Pada kesempatan itu, Iwan Tompo memberikan semacam pengetahuan praktis, bagaimana membedakan lagu-lagu Bugis dengan lagu-lagu Makassar.
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi




