
Oleh: Joberth Tupan (Pendeta Gereja Protestan Maluku, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Kristen Indonesia Maluku)
Di tengah kehangatan senja temaram, seorang lelaki sepuh terbenam dalam kerinduan di beranda rumahnya. Sorot matanya menerawang jauh, menembus horizon dua desa yang terjerat pertikaian berpuluh tahun silam. Namanya Opa Urbanus, seorang pensiunan guru.
“Damai itu bukan seng ada goresan,” ucapnya lembut kepada sejumlah pemuda yang sedang berkunjung ke rumahnya. Dengan penuh semangat, ia kembali berucap, “Damai itu adalah seni membangun jembatan di antara jurang kebencian.”
Seperti John Paul Lederach yang menulis buku, “The Moral Imagination: The Art and Soul of Building Peace”, Opa Urbanus meyakini bahwa perdamaian inheren dengan imajinasi moral, sebuah kemampuan untuk membayangkan dan merespons melampaui lingkaran kekerasan maupun ujaran kebencian yang telah mengakar.
“Dolo”, Opa Urbanus melanjutkan ceritanya, “kampong ini deng kampong sabalah sasaja rusuh tagal manggurebe sumber air. Setiap bakudapa, pasti bakutatoki. Dudu bicara par bae jua tar jadi, tagal katong anggap dong tu musuh, bukan tetangga yang ada butuh air sama deng katong.” Perdamaian sejati dimulai atas kesadaran bahwa kita semua terjalin dalam jaringan hubungan yang sama, yaitu kemanusiaan.
Di tengah sengsara kemarau, saat konflik semakin membara, Opa Urbanus melangkah di luar kebiasaan. Ia mengulurkan tangan persahabatan, mengundang sejumlah warga desa tetangga untuk berbagi jamuan malam di rumahnya. Bukan merundingkan persoalan ataupun membahas perselisihan, melainkan menyantap hidangan dan merajut cerita hangat.
“Dudu dalam satu ruangan deng ‘musuh’ tanpa maksud terselebung adalah langkah berani yang penuh risiko,” ucap Opa Urbanus. Namun, itulah letak keindahannya; keberanian untuk melangkah ke ruang penuh risiko, sembari menemukan harapan kemanusiaan (paradoxical curiosity).
Pertemuan itu berlanjut menjadi ritual saling mengunjungi rumah. Perlahan, obrolan bergeser dari kisah masa kecil ke masalah kolektif. Ketika musim hujan tiba, kedua desa sepakat membangun sistem irigasi bersama sehingga bermanfaat bagi semua.
“Perdamaian sejati seng datang dari perjanjian di atas kertas, mar datang jika katong bisa rangkul perbedaan atas dasar kesamaan nasib. Ketika katong berani ambil risiko voor parcaya orang lain, ketika katong mampu voor lihat kemungkinan yang seng terlihat, maka katong sedang berusaha membayangkan perdamaian “, tutup Opa Urbanus.
Sebagaimana diungkapkan oleh Lederach, perdamaian bukanlah destinasi statis, melainkan perjalanan transformatif tak berujung, menghamparkan jaringan hubungan mendalam. Perdamaian sejati harus mekar dari benih masyarakat itu sendiri, disirami dengan modal sosial dan dipupuk dengan kearifan lokal.
Saat mentari perlahan merunduk di batas cakrawala, Opa Urbanus tersenyum seraya mengamati anak-anak dari kedua desa hendak bermain sepakbola bersama di lapangan depan rumahnya. “Jang biking kabor hubungan yang su jalan bae-bae ni”, gumamnya dalam hati.(*)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi