Pendapat

Di Bawah Pohon Jati, Anak-anak GPM Labuha Belajar Integritas Bersama KPK RI

PENDAPAT

Oleh: Pdt. Fridolin R. KwalomineKMJ Labuha


Di bawah rindangnya pohon-pohon jati yang berdiri kokoh di Bumi Perkemahan Sungai Ra, Kebun Jemaat GPM Labuha, puluhan anak dan remaja duduk rapih dengan mata tertuju pada sebuah layar TV. Angin yang berembus perlahan menjadi penyejuk di tengah hangatnya siang. Sesekali terdengar tawa lepas, lalu berubah menjadi keheningan ketika materi dimulai.

Tidak ada ruang kelas dengan dinding beton. Tidak ada pendingin ruangan. Alam menjadi ruang belajar, sementara teknologi menghadirkan narasumber dari ribuan kilometer jauhnya.

Sebanyak 78 peserta Baku Dapa Anak dan Remaja (BADAR) dan Pelatihan Kepemimpinan Remaja Gereja (PKRG) Angkatan II mengikuti kelas bertajuk Membina Integritas Diri Anak dan Remaja Gereja, yang difasilitasi langsung oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK RI) melalui Zoom Meeting.

Kegiatan ini menjadi salah satu pengalaman belajar yang paling berkesan selama perkemahan. Sebab, di usia mereka yang masih belia, anak-anak diajak memahami bahwa korupsi bukan hanya tentang uang negara, melainkan juga tentang kejujuran, tanggung jawab, dan karakter dalam kehidupan sehari-hari.

Tiga fasilitator KPK RI—Bunga Alamanda S. Abadiah, Al Razi Radjal Haikal, dan Sabrina Lydia Simanjuntak—membawakan materi dengan gaya yang hangat, komunikatif, dan penuh interaksi. Sejak awal, suasana dibuat hidup melalui Senam Anak Indonesia yang menanamkan nilai jujur, disiplin, dan tanggung jawab.

Tak lama kemudian, peserta diperkenalkan dengan sembilan nilai utama integritas yang dirangkum dalam akronim yang mudah diingat: JUMAT BERSEPEDA KAKA—Jujur, Mandiri, Bertanggung Jawab, Berani, Sederhana, Peduli, Disiplin, Adil, dan Kerja Keras.

Nilai-nilai tersebut tidak disampaikan melalui ceramah panjang. Para fasilitator mengajak peserta belajar melalui cerita, diskusi, permainan, dan film pendek.

Suasana semakin semarak ketika dua film diputar secara bergantian, yakni “Subur itu Jujur” dan “HP Dinas”. Kedua film sederhana itu ternyata mampu memancing perhatian seluruh peserta. Mereka diajak menemukan sendiri pesan moral yang tersembunyi di balik setiap adegan.

WhatsApp Image 2026 06 25 at 16.36.40
Anak-anak dan remaja GPM Labuha mengikuti kelas integritas bersama KPK RI melalui Zoom Meeting di bawah pohon jati di Bumi Perkemahan Sungai Ra.(Foto: Dok. Penulis)

Usai pemutaran film, tangan-tangan kecil mulai terangkat tinggi. Anak-anak saling berlomba menjawab pertanyaan yang diberikan fasilitator. Tidak sedikit pula yang dengan jujur mengakui kesalahan-kesalahan kecil yang pernah mereka lakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Kejujuran itu justru mendapat apresiasi

Setiap jawaban yang tepat memperoleh hadiah dari KPK RI, bukan sekadar sebagai bentuk penghargaan, tetapi juga sebagai dorongan agar nilai-nilai integritas semakin melekat dalam kehidupan anak-anak. Hadiahnya kini dalam perjalanan dari Ibu Kota Negara ke Ibu Kota Kabupaten Halmahera Selatan.

Di tengah riuh tawa dan semangat belajar, tampak pula Ketua Klasis GPM PP Bacan hadir bersama Majelis Jemaat dan Komisi Anak, Remaja, dan Katekisasi (ARK) Jemaat GPM Labuha.

Mereka memastikan seluruh rangkaian kegiatan daring berlangsung dengan baik. Dukungan warga jemaat pun menjadi bagian penting dari keberhasilan sesi tersebut, mulai dari penyediaan fasilitas hingga kelancaran jaringan internet.

Momentum itu memperlihatkan bahwa pendidikan karakter bukan hanya menjadi tanggung jawab keluarga atau sekolah. Gereja juga mengambil bagian penting dalam membentuk generasi yang memiliki integritas sejak usia dini.

Tema BADAR dan PKRG Angkatan II, “Menjadi Generasi Gereja yang Kreatif, Inovatif dan Berintegritas,” bukan sekadar slogan yang terpampang pada spanduk kegiatan. Tema itu diwujudkan dalam proses belajar yang nyata—menghubungkan iman, karakter, dan kehidupan sehari-hari.

Di bawah teduhnya pohon jati, anak-anak belajar bahwa menjadi orang besar bukan hanya soal memiliki pengetahuan atau jabatan. Lebih dari itu, mereka belajar bahwa masa depan yang baik dibangun dari keberanian berkata benar, hidup sederhana, bertanggung jawab atas setiap tindakan, dan tetap jujur meski tak seorang pun melihat.

Barangkali, dari bumi perkemahan sederhana di Sungai Ra inilah sedang bertumbuh benih-benih pemimpin masa depan—generasi Gereja yang bukan hanya cerdas dan kreatif, tetapi juga memiliki integritas yang kokoh untuk melayani sesama, gereja, bangsa, dan Tuhan.(*)

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Berita Serupa

Back to top button