Ekonomi & BisnisMalukuNasional

RUPSLB Telkom Setujui Spin-Off InfraCo, Lebih dari 90 Persen Aset Jaringan Dialihkan ke InfraNexia

potretmaluku.id – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk menyetujui pemisahan aset dan bisnis wholesale fiber connectivity ke PT Telkom Infrastruktur Indonesia (InfraNexia) melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), Rabu kemarin.

Persetujuan tersebut diberikan pemegang saham independen Telkom setelah memenuhi ketentuan kuorum sebagaimana diatur dalam Peraturan OJK Nomor 42/POJK.04/2020 tentang Transaksi Afiliasi dan Benturan Kepentingan.

Aksi korporasi ini menjadi bagian dari strategi Telkom untuk mengoptimalkan aset infrastruktur sekaligus memperkuat transformasi perusahaan dari Operating Holding menuju Strategic Holding dengan model Holding Company-Operating Company (HoldCo-OpCo).

Direktur Utama Telkom, Nanang Hendarno menyampaikan, spin-off tersebut akan membuat struktur bisnis lebih fokus sekaligus memberikan ruang bagi InfraNexia untuk berkembang.

Dia juga menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada pemegang saham dan seluruh pemangku kepentingan yang senantiasa menyertai perjalanan transformasi Telkom.

Dia berharap, kepercayaan yang diberikan kepada Telkom atas Spin-Off InfraCo tersebut menjadi langkah penting untuk membangun struktur bisnis yang lebih fokus, sekaligus memberi ruang dan fleksibilitas bagi InfraNexia untuk berkembang lebih optimal.

“Telkom memastikan transformasi yang tengah dijalankan dapat memberikan dampak nyata terhadap kinerja dan value creation, sekaligus menghadirkan kontribusi yang semakin besar bagi kemajuan ekosistem digital Indonesia,” ungkap Nanang.

Di hari yang sama, Telkom dan InfraNexia juga menandatangani akta pemisahan sebagai bagian dari penyelesaian Spin-Off InfraCo Tahap kedua.

Melalui proses tersebut, lebih dari 90 persen aset infrastruktur jaringan Telkom dikonsolidasikan ke InfraNexia. Total jaringan yang dikelola mencapai sekitar 112.000 kilometer serat optik, termasuk 26.000 kilometer Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) domestik. Nilai transaksi mencapai sekitar Rp85,7 triliun.

Nanang mengatakan, konsolidasi tersebut diarahkan untuk meningkatkan produktivitas aset dan memperbesar kontribusi pasar eksternal terhadap pendapatan segmen B2B Infrastructure TelkomGroup.

Dengan skala dan fokus yang semakin solid, InfraNexia diharapkan mampu mengelola infrastruktur secara lebih optimal sekaligus membuka pemanfaatannya bagi lebih banyak pelaku industri.

“Langkah ini menjadi bagian dari upaya TelkomGroup membangun bisnis agar semakin fokus, kompetitif, dan mampu menciptakan nilai yang jauh lebih besar dari tiap aset strategis yang dimiliki,” ujar Nanang.

Sementara itu, Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom, Seno Soemadji menyebut konsolidasi tersebut membuka ruang lebih besar bagi InfraNexia untuk meningkatkan utilisasi jaringan dan memperluas kolaborasi dalam ekosistem digital nasional.

Skala infrastruktur yang semakin besar memberi kami fleksibilitas untuk menghadirkan solusi yang lebih relevan bagi berbagai kebutuhan pelanggan.

“Fokus kami bukan hanya memperluas pemanfaatan aset, tetapi memastikan infrastruktur yang kami miliki dapat menjadi fondasi bagi pertumbuhan lebih banyak mitra dan layanan digital, serta mendukung penguatan ekosistem dan kedaulatan digital Indonesia,” tambah Seno.

Pascakonsolidasi, InfraNexia mengelola jaringan serat optik melalui infrastruktur darat dan laut yang mencakup empat area, 12 regional, dan 61 distrik di Indonesia.

“Jaringan tersebut menjadi infrastruktur pendukung bagi operator telekomunikasi, penyedia layanan internet, perusahaan cloud, data center, dan pelaku industri lainnya untuk memperluas kapasitas maupun jangkauan layanan,” katanya.

Direktur Utama InfraNexia, Lukman Hakim Abd. Rauf menambahkan, penguatan jaringan tersebut akan diarahkan untuk membangun infrastruktur yang siap mendukung perkembangan kecerdasan buatan (AI), cloud, data center, dan berbagai layanan digital.

Dia menyebut, Indonesia membutuhkan AI Ready Infrastructure yang mampu berkembang seiring kebutuhan industri dan teknologi.

“Dengan jaringan yang semakin terintegrasi dan scalable, kami ingin menghadirkan fondasi yang dapat mendukung pertumbuhan AI, cloud, data center, serta berbagai inovasi digital lainnya di masa depan, sekaligus membuka lebih banyak ruang bagi mitra untuk memperluas layanan dan menciptkan peluang pertumbuhan baru tanpa harus mengembangkan seluruh infrastrukturnya secara mandiri,” pungkas Lukman.

InfraNexia menjalankan model bisnis carrier-neutral dan open-access melalui lini Wholesale Connectivity dan Wholesale FTTx. Layanan yang ditawarkan mencakup konektivitas berkapasitas tinggi, akses jaringan, hingga pemanfaatan infrastruktur pasif bersama.

Selain memperluas skala bisnis, perusahaan juga mempercepat modernisasi operasi jaringan melalui otomasi, integrasi sistem, dan pengembangan autonomous network untuk meningkatkan keandalan serta efisiensi operasional.

RUPSLB Telkom juga menyetujui perubahan susunan Dewan Komisaris dan Direksi Perseroan.

Dewan Komisaris:

– Komisaris Utama: Angga Raka Prabowo

– Komisaris: Ossy Darmawan

– Komisaris: Rizal Mallarangeng

– Komisaris: Edwin Hidayat Abdullah

– Komisaris Independen: Rofikoh Rokhim

– Komisaris Independen: Anthony Leong

– Komisaris Independen: Deswandhy Agusman

– Komisaris Independen: Ira Noviarti

Direksi:

– Direktur Utama: Nanang Hendarno

– Direktur Enterprise & Business Service: Veranita Yosephine

– Direktur Human Capital Management: Willy Saelan

– Direktur Keuangan & Manajemen Risiko: Arthur Angelo Syailendra

– Direktur Network: Budi Satria Dharma Purba

– Direktur Strategic Business Development & Portfolio: Seno Soemadji

– Direktur Wholesale & International Service: Radita Ali Putra

– Direktur IT Digital: Kharim I. G. Siregar

– Direktur Legal & Compliance: Andy Kelana. (SAH)


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Berita Serupa

Back to top button