Pendapat

Bedah Buku Biografi Ajoeba Wartabone Bahas Gagasan dan Kepemimpinan Sang Tokoh

Menjabat sebagai Marsaoleh Limboto (1921-1924), mengikuti pendidikan Bestuursschool di Batavia (1924-1926), kemudian menjadi redaktur bulanan Pertimbangan (Manado) bersama Mr Soenarjo, Mr Iskaq Tjokrohadisoerdjo, GR Pantouw, A Durand, dan GE Dauhan, selanjutnya menjadi Jogugu di Limboto (1934-1946).

Kiprah dan kontribusi Ajoeba Wartabone semakin diperhitungkan setelah menjadi Ketua Dewan Nasional di Gorontalo (1945-1946)

Pada Desember 1946, pria yang dikenal rapi dan suka memakai dasi dan topi ini mengikuti Konferensi Denpasar, yang menjadi cikal bakal lahirnya Negara Indonesia Timur (NIT), bentukan Hubertus Johannes van Mook, Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1942-1948). NIT beribu kota di Makassar. 

Selama menjadi anggota Parlemen NIT (1947-1949), Ajoeba Wartabone tergabung dalam Fraksi Progresif. Di tahun 1947, dalam sebuah rapat pemandangan umum Parlemen NIT, Ajoeba Wartabone mengucapkan pekik terkenal “Sekali ke Djokja tetap ke Djokja”, yang membuktikan bahwa ia seorang republiken dan nasionalis tulen.

Lini masa sejarah mencatat, pada 4 November 1947, Ajoeba Wartabone mendapat amanah sebagai Ketua Dewan Gorontalo.budah buku

Momen historis dalam perjalanan hidupnya dan perjalanan bangs ini terjadi ketika ia menjadi bagian dari Goodwill Missie Parlemen NIT pada 16 Februari sampai 10 Maret 1948. 

Selama lawatan ke Yogyakarta, Jakarta, dan Jawa Timur itu, utusan parlemen NIT berjumpa dan menemui sejumlah tokoh nasional. Ajoeba Wartabone dkk bahkan bertemu dengan Presiden Ir Soekarno, dan Wapres Mohammad Hatta, serta pemuka-pemuka republik di Yogyakarta.

Berturu-turut kepemimpinan Ajoeba Wartabone teruji. Ia pernah menjadi Kepala Daerah Sulawesi Utara (1949-1950), Kepala Pemerintahan Umum Gubernur Militer di Manado (1950-1951), anggota Dewan Pemerintahan Daerah (DPD) Partai Persatuan Indonesia Raya (PIR) (1953-1956), dan calon Gubernur Sulawesi (1956).

Ajoeba Wartabone wafat pada hari Jumat, 26 April 1957, dalam bulan Ramadhan 1376 Hijriyah. Ia dimakamkan di Desa Bubeya, Bone Bolanga, Gorontalo, di belakang Masjid Besar Suwawa. 

Makamnya diapit oleh makam ayahnya, Zakaria Wartabone, dan makam kakeknya, Nuku Wartabone. Ajoeba Wartabone diberi gelar adat “Ta Loo Layi a Lipu”, atau Putra Terbaik yang menjadikan negeri Gorontalo lebih menonjol dan dikenal luas.(*)

IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi

Previous page 1 2

Berita Serupa

Back to top button