Menjemput Tidur di Tengah Putaran Kipas
potretmaluku.id – Jangankan di tengah gelombang panas yang seakan tak berkesudahan, dalam hari-hari hujanpun, dengungan kipas angin menjadi suara latar dari pagi hingga larut malam.
Perangkat sederhana ini, penemuan jenius yang meniupkan angin palsu di antara dinding rumah, berputar tanpa henti, bahkan saat kita terlelap. Apalagi di musim panas, kipas bukan sekadar alat elektronik; ia adalah pelipur derita.
Namun, kenyamanan itu ada harganya, baik di tagihan listrik maupun kesehatan.
Dalam cuaca terik, menutup jendela dan tirai sejak pagi tidak cukup menahan panas yang merayap dari dinding.
Bagi mereka yang tinggal di rumah dengan sirkulasi buruk, udara di dalam ruangan tak jauh beda dengan suhu di luar. Kipas angin pun menjadi penyelamat. Meski hanya meniupkan udara panas, sensasi angin yang bergerak mampu menciptakan ilusi kesejukan.
Beberapa orang memilih mematikannya saat tidur, tapi banyak yang justru menyalakannya sepanjang malam. Bunyi dengungnya, meski nyaring, menjadi semacam selimut kenyamanan.
Secara finansial, kipas angin masih jauh lebih bersahabat ketimbang pendingin udara. Dengan konsumsi daya berkisar antara 50 hingga 200 watt, kipas angin rata-rata hanya menambah sekitar Rp90 ribu sebulan untuk pemakaian rutin setiap malam. Bandingkan dengan AC yang bisa menghabiskan lebih dari Rp3 juta untuk pemakaian harian selama musim panas.
Meski tak menurunkan suhu ruangan secara nyata, kipas memberikan sensasi seolah-olah suhu turun 2 hingga 3 derajat. Cukup untuk membuat tubuh rileks dan mata terpejam. Yang penting, jangan terlalu ambil pusing dengan suara bisingnya, yang kadang terasa seperti baling-baling helikopter parkir di kamar tidur.
Namun, kenyamanan itu punya sisi gelap. Menurut sejumlah pakar medis, sebagaimana dikutip The Body Optimist, Kamis, 26 Juni 2025, penggunaan kipas angin semalaman dapat menyebabkan:
- Tenggorokan dan rongga hidung kering
- Iritasi mata akibat udara kering
- Sering terbangun karena merasa haus
- Memicu alergi akibat debu yang beterbangan
- Leher kaku saat bangun tidur
Karena itu, kipas angin tetap bisa digunakan, dengan beberapa catatan. Misalnya arahkan angin ke tembok, bukan langsung ke tubuh. Aktifkan mode osilasi agar aliran angin menyebar merata.
Bila memungkinkan, gunakan fitur pengatur waktu untuk mematikannya otomatis. Dan yang tak kalah penting, bersihkan kipas secara rutin agar tidak menyebarkan debu ke seluruh ruangan.
Mengantuk di tengah gelombang panas memang menyiksa. Tapi, dengan modal kurang dari seratus ribu rupiah sebulan, kipas angin tetap jadi pilihan rasional, dan sentimental.
Maka, jika butuh sedikit semilir angin palsu untuk mengantar tidur, nyalakan saja. Hirup pelan. Dan biarkan bising itu menjadi lagu nina bobo musim panas.(TIA)
IKUTI BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



